Thursday, February 9, 2012

Pemuda teladan sepanjang zaman- Mush'ab bin Umair ra

Mengambil teladan daripada Sirah sebagai panduan kita bekerja dalam menegakkan deen Allah SWT di dalam realiti Islam yang ghurbah.

Berikut dikongsikan kisah syabab teladan sepanjang zaman. Di sana terdapat pengajaran-pengajaran yang berguna untuk kita semua.

w/a

Read on:

Mush’ab bin Umair salah seorang di antara para shahabat Nabi. Alangkah baiknya jika kita, memulai kisah dengan pribadi-nya: Seorang remaja Quraisy terkemuka, seorang yang paling ganteng dan tampan, penuh dengan jiwa dan semangat kemudaan.

Para ahli riwayat melukiskan semangat kemudaannya dengan kalimat: “Seorang warga kota Mekah yang mempunyai nama paling harum”·

Ia lahir dan dibesarkan dalam kesenangan, dan tumbuh dalam lingkungannya· Mungkin tak seorang pun di antara anak-anak muda Mekah yang beruntung dimanjakan oleh kedua orang tuanya demikian rupa sebagai yang dialami Nlush’ab bin Umair.

Mungkinkah kiranya anak muda yang serba kecukupan, biasa hidup mewah dan manja, menjadi buah-bibir gadis-gadis Mekah dan menjadi bintang di tempat-tempat pertemuan, akan meningkat sedemikian rupa hingga menjadi buah ceritera tentang keimanan, menjadi tamsil dalam semangat kepahlawanan Sungguh, suatu riwayat penuh pesona, riwayat Mush’ab bin Umair atau “Mush’ab yang balk”, sebagai biasa digelarkan oleh Kaum Muslimin. Ia salah satu di antara pribadi-pribadi Muslimin yang ditempa oleh Islam dan dididik oleh Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Tetapi corak pribadi manakah?
Sungguh, kisah hidupnya menjadi kebanggaan bagi kemanusiaan umumnya.
Suatu hari anak muda ini mendengar berita yang telah tersebar luas di kalangan warga Mekah mengenai Muhammad al-Amin … Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang mengatakan bahwa dirinya telah diutus Allah sebagai pembawa berita suka maupun duka, sebagai da’i yang mengajak ummat beribadat kepada Allah Yang Maha Esa.

Sementara perhatian warga Mekah terpusat pada berita itu, dan tiada yang menjadi buah pembicaraan mereka kecuali tentang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam serta Agama yang dibawanya, maka anak muda yang manja ini paling banyak mendengar berita itu. Karena walaupun usianya masih belia, tetapi ia menjadi bunga majlis tempat-tempat pertemuan yang selalu diharapkan kehadirannya oleh para anggota dan teman-temannya. Gayanya yang tampan dan otaknya yang cerdas merupakan keistimewaan Ibnu Umair, menjadi daya pemikat dan pembuka jalan pemecahan masalah.

Di antara berita yang didengarnya ialah bahwa Rasulullah bersama pengikutnya biasa mengadakan pertemuan di suatu tempat yang terhindar Sauh dari gangguan gerombolan Quraisy dan ancaman-ancamannya, yaitu di bukit Shafa di rumah Arqam bin Abil Arqam.

Keraguannya tiada berjalan lama, hanya sebentar waktu ia menunggu, maka pada suatu senja didorong oleh kerinduannya pergilah ia ke rumah Arqam menyertai rombongan itu. Di tempat itu Rasulullah saw. sering berkumpul dengan para shahabatnya, tempat mengajamya ayat-ayat al-Quran dan membawa mereka shalat beribadat kepada Allah Yang Maha Akbar.

Baru saja Mush’ab mengambil tempat duduknya, ayat-ayat al-Quran mulai mengalir dari kalbu Rasulullah bergema melalui kedua bibirnya dan sampai ke telinga, meresap di hati para pendengar. Di senja itu Mush’ab pun terpesona oleh untaian kalimat Rasulullah yang tepat menemui sasaran pada kalbunya.

Hampir saja anak muda itu terangkat dari tempat duduknya karena rasa haru, dan serasa terbang ia karena gembira. Tetapi Rasulullah mengulurkan tangannya yang penuh berkat dan kasih sayang dan mengurut dada pemuda yang sedang panas bergejolak, hingga tiba-tiba menjadi sebuah lubuk hati yang tenang dan damai, tak obah bagai lautan yang teduh dan dalam.

Pemuda yang telah Islam dan Iman itu nampak telah memiliki ilmu dan hikmah yang luas — berlipat ganda dari ukuran usianya — dan mempunyai kepekatan hati yang mampu merubah jalan sejarah …!
Khunas binti Malik yakni ibunda Mush’ab, seorang yang berkepribadian kuat dan pendiriannya tak dapat ditawar atau diganggu gugat. la wanita yang disegani bahkan ditakuti.

Ketika Mush’ab menganut Islam, tiada satu kekuatan pun yang ditakuti dan dikhawatirkannya selain ibunya sendiri, bahkan walau seluruh penduduk Mekah beserta berhala-berhala para pembesar dan padang pasirnya berubah rupa menjadi suatu kekuatan yang menakutkan yang hendak menyerang dan menghancurkannya, tentulah Mush’ab akan menganggapnya enteng. Tapi tantangan dari ibunya bagi Mush’ab tidak dapat dianggap kecil. Ia pun segera berpikir keras dan mengambil keputusan untuk menyembunyikan keislamannya sampai terjadi sesuatu yang dikehendaki Allah. Demikianlah ia senantiasa bolak-balik ke rumah Arqam menghadiri majlis Rasulullah, sedang hatinya merasa bahagia dengan keimanan dan sedia menebusnya dengan amarah murka ibunya yang belum mengetahui berita keislamannya.

Tetapi di kota Mekah tiada rahasia yang tersembunyi, apalagi dalam suasana seperti itu. Mata kaum Quraisy berkeliaran di mana-mana mengikuti setiap langkah dan menyelusuri setiap jejak.

Kebetulan seorang yang bernama Usman bin Thalhah melihat Mush’ab memasuki rumah Arqam secara sembunyi. Kemudian pada hari yang lain dilihatnya pula ia shalat seperti Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Secepat kilat ia mendapatkan ibu Mush’ab dan melaporkan berita yang dijamin kebenarannya.

Berdirilah Mush’ab di hadapan ibu dan keluarganya serta para pembesar Mekah yang berkumpul di rumahnya. Dengan hati yang yakin dan pasti dibacakannya ayat-ayat al-Quran yang disampaikan Rasulullah untuk mencuci hati nurani mereka, mengisinya dengan hikmah dan kemuliaan, kejujuran dan ketaqwaan.

Ketika sang ibu hendak membungkam mulut puteranya dengan tamparan keras, tiba-tiba tangan yang terulur bagai anak panah itu surut dan jatuh terkulai — demi melihat nur atau cahaya yang membuat wajah yang telah berseri cemerlang itu kian berwibawa dan patut diindahkan — menimbulkan suatu ketenangan yang mendorong dihentikannya tindakan.

Karena rasa keibuannya, ibunda Mush’ab terhindar memukul dan menyakiti puteranya, tetapi tak dapat menahan diri dari tuntutan bela berhala-berhalanya dengan jalan lain. Dibawalah puteranya itu ke suatu tempat terpencil di rumahnya, lalu dikurung dan dipenjarakannya amat rapat.

Demikianlah beberapa lama Mush’ab tinggal dalam kurungan sampai saat bebeuapa orang Muslimin hijrah ke Habsyi. Mendengar berita hijrah ini Mush’ab pun mencari muslihat, dan berhasil mengelabui ibu dan penjaga-penjaganya, lain pergi ke Habsyi melindungkan diri. Ia tinggal di sana bersama saudara-saudaranya kaum Muhajirin, lain pulang ke Mekah. Kemudian ia pergi lagi hijrah kedua kalinya bersama para shahabat atas titah Rasulullah dan karena taat kepadanya.

Balk di Habsyi ataupun di Mekah, ujian dan penderitaan yang harus dilalui Mush’ab di tiap saat dan tempat kian meningkat.
Ia telah selesai dan berhasil menempa corak kehidupannya menurut pola yang modelnya telah dicontohkan Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam la merasa puas bahwa kehidupannya telah layak untuk dipersembahkan bagi pengurbanan terhadap Penciptanya Yang Maha Tinggi, Tuhannya Yang Maha Akbar …

Pada suatu hari ia tampil di hadapan beberapa orang Muslimin yang sedang duduk sekeliling Rasulullah saw. Demi memandang Mush’ab, mereka sama menundukkan kepala dan memejamkan mata, sementara beberapa orang matanya basah karena duka. Mereka melihat Mush’ab memakai juSah usang yang bertambal-tambal, padahal belum lagi hilang dari ingatan mereka — pakaiannya sebelum masuk Lslam — tak obahnya bagaikan kembang di taman, berwarna warni dan menghamburkan bau yang wangi.

Adapun Rasulullah, menatapnya dengan pandangan penuh arti, disertai cinta kasih dan syukur dalam hati, pada kedua bihirnya tersungging senyuman mulia, seraya bersabda:
Dahulu saya lihat Mush’ab ini tak ada yang mengimbangi daiam memperoleh k esenangan dari orang tuanya, kemudian ditinggalhannya semua itu demi cintanya hepada Allah dan Rasul-Nya.

Semenjak ibunya merasa putus asa untuk mengembalikan Mush’ab kepada agama yang lama, ia telah menghentikan segala pemberian yang biasa dilimpahkan kepadanya, bahkan ia tak sudi nasinya dimakan orang yang telah mengingkari berhala dan patut beroleh kutukan daripadanya, walau anak kandungnya sendiri.

Akhir pertemuan Mush’ab dengan ibunya, ketika perempuan itu hendak mencoba mengurungnya lagi sewaktu ia pulang dari Habsyi. Ia pun bersumpah dan menyatakan tekadnya untuk membunuh orang-orang suruhan ibunya bila rencana itu dilakukan. Karena sang ibu telah mengetahui kebulatan tekad puteranya yang telah mengambil satu keputusan, tak ada jalan lain baginya kecuali melepasnya dengan cucuran air mata, sementara Mush’ab mengucapkan selamat berpisah dengan menangis pula.

Saat perpisahan itu menggambarkan kepada kita kegigihan luar biasa dalam kekafiran fihak ibu, sebaliknya kebulatan tekad yang lebih besar dalam mempertahankan keimanan dari fihak anak. Ketika sang ibu mengusirnya dari rumah sambil berkata: “Pergilah sesuka hatimu! Aku bukan ibumu lagi”.

Maka Mush’ab pun menghampiri ibunya sambil berkata: !’Wahai bunda! Telah anakanda sampaikan nasihat kepada bunda, dan anakanda menaruh kasihan kepada bunda. Karena itu saksikanlah bahwa tiada Tuhan melainkan Allah, dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya”.

Dengan murka dan naik darah ibunya menyahut: “Demi bintang! Sekali-kali aku takkan masuk ke dalam Agamamu itu.
Otakku bisa jadi rusak, dan buah pikiranku takkan diindahkan orang lagi”.

Demikian Mush’ab meninggalkari kemewahan dan kesenangan yang dialaminya selama itu, dan memilih hidup miskin dan sengsara. Pemuda ganteng dan perlente itu, kini telah menjadi seorang melarat dengan pakaiannya yang kasar dan usang, sehari makan dan beberapa hari menderita lapar.

Tapi jiwanya yang telah dihiasi dengan ‘aqidah suci dan cemerlang berkat sepuhan Nur Ilahi, telah merubah dirinya menjadi seorang manusia lain, yaitu manusia yang dihormati, penuh wibawa dan disegani …

Suatu saat Mush’ab dipilih Rasulullah untuk melakukan suatu tugas maha penting saat itu. Ia menjadi duta atau utusan Rasul ke Madinah untuk mengajarkan seluk beluk Agama kepada orang-orang Anshar yang telah beriman dan bai’at kepada Rasulullah di bukit ‘Aqabah. Di samping itu mengajak orang-orang lain untuk menganut Agama-Allah, serta mempersiapkan kota Madinah untuk menyambut hijratul Rasul sebagai peuistiwa besar.

Sebenamya di kalangan shahabat ketika itu masih banyak yang lebih tua, lebih beupengarub dan lebih dekat hubungan kekeluargaannya dengan Rasulullah daripada Mush’ab. Tetapi Rasulullah menjatuhkan pilihannya kepada “Mush’ab yang baik”.

Dan bukan tidak menyadari sepenuhnya bahwa beliau telah memikulkan tugas amat penting ke atas pundak pemuda itu, dan menyerahkan kepadanya tanggung jawab nasib Agama Islam di kota Madinah, suatu kota yang tak lama lagi akan menjadi kota tepatan atau kota hijrah, pusat para da’i dan da’wah, tempat berhimpunnya penyebar Agama dan pembela al-Islam.

Mush’ab memikul amanat itu dengan bekal karunia Allah kepadanya, berupa fikiran yang cerdas dan budi yang luhur.
Dengan sifat zuhud, kejujuran dan kesungguhan hati, ia berhasil melunakkan dan menawan hati penduduk Madinah hingga mereka beuduyun-duyun masuk Islam.

Sesampainya di Madinah, didapatinya Kaum Muslimin di sana tidak lebih dari dua belas orang, yakni hanya orang-orang yang telah bai’at di bukit ‘Aqabah. Tetapi tiada sampai beberapa bulan kemudian, meningkatlah orang yang sama-sama memenuhi panggilan Allah dan Rasul-nya.

Pada musim haji berikutnya dari perjanjian ‘Aqabah, Kaum Muslimin Madinah mengirim perutusan yang mewakili mereka menemui Nabi. Dan perutusan itu dipimpin oleh guru mereka, oleh duta yang dikirim Nabi kepada mereka, yaitu Mush’ab bin Umair.

Dengan tindakannya yang tepat dan bijaksana, Mush’ab bin Umair telah membuktikan bahwa pilihan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam atas dirinya itu tepat. Ia memahami tugas dengan sepenuhnya, hingga tak terlanjur melampaui batas yang telah ditetapkan.

la sadar bahwa tugasnya adalah menyerLi kepada Allah, menyampaikan berita gembira lahirnya suatu Agama yang mengajak manusia mencapai hidayah Allah, membimbing mereka ke jalan yang lurus. Akhlaqnya mengikuti pola hidup Rasulullah yang diimaninya, yang mengemban kewajiban hanya menyampaikan belaka ….

Di Madinah Mush’ab tinggal sebagai tamu di rumah As’ad bin Zararah. Dengan didampingi As’ad, ia pergi mengunjungi kabilah-kabilah, rumah-rumah dan tempat-tempat pertemuan, untuk membacakan ayat-ayat; Kitab Suci dari Allah, menyampaian kalimattullah “bahwa Allah Tuhan Maha Esa” secara hati-hati.

Pernah ia menghadapi beberapa peristiwa yang mengancam keselamatan diri serta shahabatnya, yang nyaris celaka kalau tidak karena kecerdasan akal dan kebesaran jiwanya. Suatu hari, ketika ia sedang memberikan petuah kepada orang-orang, tiba-tiba disergap Usaid bin Hudlair kepala suku kabilah Abdul Asyhal di Madinah. Usaid menodong Mush’ab dengan menyentakkan lembingnya. Bukan main marah dan murkanya Usaid, menyaksikan Mush’ab yang dianggap akan mengacau dan menyelewengkan anak buahnya dari agama mereka, serta mengemukakan Tuhan Yang Maha Esa yang belum pernah mereka kenal dan dengar sebelum itu. Padahal menurut anggapan Usaid, tuhan-tuhan mereka yang bersimpuh lena di tempatnya masing-masing mudah dihubungi secara kongkrit. Jika seseorang memerlukan salah satu di antaranya, tentulah ia akan mengetahui tempatnya dan segera pergi mengunjunginya untuk memaparkan kesulitan serta menyampaikan permohonan.

Demikianlah yang tergambar dan terbayang dalam fikiran suku Abdul Asyhal.
Tetapi Tuhannya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam — yang diserukan beribadah kepada-Nya — oleh utusan yang datang kepada mereka itu, tiadalah yang mengetahui tempat-Nya dan tak seorang pun yang dapat melihat-rjya.

Demi dilihat kedatangan Usaid bin Hudlair yang murka bagaikan api sedang berkobar kepada orang-orang Islam yang duduk beusama Mush’ab, mereka pun merasa kecut dan takut.
Tetapi “Mush’ab yang baik” tetap tinggal tenang dengan air muka yang tidak berubah.

Bagaikan singa hendak menerkam, Usaid berdiri di depan Mush’ab dan As’ad bin Zararah, bentaknya: “Apa maksud kalian datang ke kampung kami ini, apakah hendak membodohi rakyat kecil kami? Tinggalkan segera tempat ini, jika tak ingin segera nyawa kalian melayang!”

Seperti tenang dan mantapnya samudera dalam…, laksana terang dan damainya cahaya fajar …,terpancarlah ketulusan hati “Mush’ab yang baik”, dan bergeraklah lidahnya mengeluarkan ucapan halus, katanya: “Kenapa anda tidak duduk dan mendengarkan dulu? Seandainya anda menyukai nanti, anda dapat menerimanya. Sebaliknya jika tidak, kami akan menghentikan apa yang tidak anda sukai itu!”

Sebenamya Usaid seorang berakal dan berfikiran sehat. Dan sekarang ini ia diajak oleh Mush’ab untuk berbicara dan meminta petimbangan kepada hati nuraninya sendiri. Yang dimintanya hanyalah agar ia bersedia mendengar dan bukan lainnya. Jika ia menyetujui, ia akan membiarkan Mush’ab, dan jika tidak, maka Mush’ab berjanji akan meninggalkan kampung dan masyarakat mereka untuk mencari tempat dan masyarakat lain, dengan tidak merugikan ataupun dirugikan orang lain.

“Sekarang saya insaf”, ujar Usaid, lalu menjatuhkan lembingnya ke tanah dan duduk mendengarkan. Demi Mush’ab membacakan ayat-ayat al-Quran dan menguraikan da’wah yang dibawa oleh Muhammad bin Abdullah saw., maka dada Usaid pun mulai terbuka dan bercahaya, beralun berirama mengikuti naik turunnya suara serta meresapi keindahannya Dan belum lagi Mush’ab selesai dari uraiannya. Usaid pun berseru kepadanya dan kepada shahabatnya: “Alangkah indah dan benarnya ucapan itu .. ·! Dan apakah yang barns dilaknkan oleb orang yang hendak masuk Agama ini?” Maka sebagai jawabannya gemuruhlah suara tahlil, serempak seakan hendak menggoncangkan bumi. Kemudian ujar Mush’ab: “Hendaklah ia mensucikan diri, pakaian dan badannya, serta bersaksi bahwa tiada Tuhan yang haq diibadahi melainkan Allah”.

Beberapa lama Usaid meninggalkan mereka, kemudian kembali sambil memeras air dari rambutnya, lain ia berdiri sambil menyatakan pengakuannya bahwa tiada Tuhan yang haq diibadahi melainkan Allah dan bahwa Muhammad itu utusan Allah ….

Secepatnya berita itu pun tersiarlah. Keidaman Usaid disusul oleh kehadiran Sa’ad bin Mu’adz. Dan setelah mendengar uraian Mush’ab, Sa’ad merasa puas dan masuk Islam pula.
Langkah ini disusul pula oleh Sa’ad bin ‘Ubadah. Dan dengan keislaman mereka ini, berarti selesailah persoalan dengan berbagai suku yang ada di Madinah. Warga kota Madinah saling berdatangan dan tanya-bertanya sesama mereka: “Jika Usaid bin Hudlair, Sa’ad bin ‘Ubadah dan Sa’ad bin Mu’adz telah masuk Islam, apalagi yang kita tunggu …. Ayolah kita pergi kepada Mush’ab dan beriman bersamanya! Kata orang, kebenaran itu terpancar dari celah-celab giginya!”

Demikianlah duta Rasulullah yang pertama telah mencapai hasil gemilang yang tiada taranya, suatu keberhasilan yang memang wajar dan layak diperolehnya· Hari-hari dan tahun-tahun pun berlalu, dan Rasulullah bersama para shahabatnya hijral ke Madinah.

Orang-orang Quraisy semakin geram dengan dendamnya, mereka menyiapkan tenaga untuk melanjutkan tindakan kekerasan terhadp hamba-hamba Allah yang shalih. Terjadilah perang Badar dan kaum Quraisy pun beroleh pelajaran pahit yang menghabiskan sisa-sisa fikiran sehat mereka, hingga mereka berusaha untuk menebus kekalahan. Kemudian datanglah giliran perang Uhud, dan Kaum Muslimin pun bersiap-siap mengatur barisan. Rasulullah berdiri di tengah barisan itu, menatap setiap wajah orang beriman menyelidiki siapa yang sebaiknya membawa bendera. Maka terpanggillah “Mush’ab yang baik”, dan pahlawan itu tampil sebagai pembawa bendera.

Peperangan berkobar lalu berkecamuk dengan sengitnya. Pasukan panah melanggar tidak mentaati peraturan Rasulullah, mereka meninggalkan kedudukannya di celah bukit setelah melihat orang-orang musyrik menderita kekalahan dan mengundurkan diri. Perbuatan mereka itu secepatnya merubah suasana, hingga kemenangan Kaum Muslimin beralih menjadi kekalahan.

Dengan tidak diduga pasukan berkuda Quraisy menyerbu Kaum Muslimin daui puncak bukit, lalu tombak dan pedang pun berdentang bagaikan mengamuk, membantai Kaum Muslimin yang tengah kacau balau. Nlelihat barisan Kaum Muslimin porak poranda, musuh pun menujukan st?rangan ke arah Rasulullah dengan maksud menghantamnya.

Mush’ab bin Umair menyadari suasana gawat ini. Maka diacungkannya bendera setinggi-tingginya dan bagaikan ngauman singa ia bertakbir sekeras-kerasnya, lain maju ke muka, melompat, mengelak dan berputar lalu menerkam. Minatnya tertuju untuk menarik perhatian musuh kepadanya dan melupakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam Dengan demikian dirinya pribadi bagaikan membentuk bauisan tentara …

Sungguh, walaupun seorang diri, tetapi Mush’ab beutempur laksana pasukan tentara besar …. Sebelah tangannya memegang bendera bagaikan tameng kesaktian, sedang yang sebelah lagi menebaskan pedang dengan matanya yang tajam …. Tetapi musuh kian bertambah banyak juga, mereka hendak menyeberang dengan menginjak-injak tubuhnya untuk mencapai Rasulullah .

Sekarang marilah kita perhatikan saksi mata, yang akan menceriterakan saat-saat terakhir pahlawan besar Mush’ab bin Umair.
Berkata Ibnu Sa’ad: “Diceriterakan kepada kami oleh Ibrahim bin Muhammad bin Syurahbil al-’Abdari dari bapaknya, ia berkata:

Mush’ab bin Umair adalah pembawa bendera di Perang Uhud. Tatkala barisan Kaum Muslimin pecah, Mush’ab bertahan pada kedudukannya. Datanglah seorang musuh berkuda, Ibnu &umaiah namanya, lalu menebas tangannya hingga putus, sementara Mush’ab mengucapkan:
Muhammad itu tiada lain hanyaIah seorang Rasul, yang sebelumnya telah didahului oleh beberapa Rasul’: Maka dipegangnya bendera dengan tangan hirinya sambil membungkuk melindunginya. Musuh pun menebas tangan kirinya itu hingga putus pula. Mushab membungkuk ke arah bendera, lalu dengan kedua pangkal lengan meraihnya he dada sambil mengucaphan: “Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasulj dan sebelumnya telah didahului oleh beberapa Rasul’: Lalu orang berkuda itu menyerangnya ketiga kali dengan tombak, dan menusukkannya hingga tombak itu pun patah. Mushab pun gugur, dan bendera jatuh ”

Gugurlah Mush’ab dan jatuhlah bendera …. Ia gugur sebagai bintang dan mahkota para syuhada …. Dan hal itu dialaminya setelah dengan keberanian luar biasa mengarungi kancah pengurbanan dan keimanan. Di saat itu Mush’ab berpendapat bahwa sekiranya ia gugur, tentulah jalan para pembunuh akan terbuka lebar menuju Rasulullah tanpa ada pembela yang akan mempertahankannya. Demi cintanya yang tiada terbatas kepada Rasulullah dan cemas memikirkan nasibnya nanti, ketika ia akan pergi berlalu, setiap kali pedang jatuh menerbangkan sebelah tangannya, dihiburnya dirinya dengan ucapan: “Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul, dan sebelumnya telah didahului oleh beberapa Rasul”

Kalimat yang kemudian dikukuhkan sebagai wahyu ini selalu diulang dan dibacanya sampai selesai, hingga akhirnya menjadi ayat al-Quran yang selalu dibaca orang ….
Setelah pertempuran usai, ditemukanlah jasad pahlawan ulung yang syahid itu terbaring dengan wajah menelungkup ke tanah digenangi darahnya yang mulia ….Dan seolah-olah tubuh yang telah kaku itu masih takut menyaksikan bila Rasulullah ditimpa bencana, maka disembunyikannya wajahnya agar tidak melihat peristiwa yang dikhawatirkan dan ditakutinya itu.

Atau mungkin juga ia merasa main karena telah gugur sebelum hatinya tenteram beroleh kepastian akan keselamatan Rasulullah, dan sebelum ia selesai menunaikan tugasnya dalam membela dan mempertahankan Rasulullah sampai berhasil.

Wahai Mush’ab cukuplah bagimu ar-Rahman ….
Namamu harum semerbak dalam kehidupan ….
Rasulullah bersama para shahabat datang meninjau medan pertempuran untuk menyampaikan perpisahan kepada para syuhada. Ketika sampai di tempat terbaringnya jasad Mush’ab, bercucuranlah dengan deras air matanya. Berkata Khabbah ibnul’Urrat:

“Kami hijrah di jalan Allah bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan mengharap keridhaan-Nya, hingga pastilah sudah pahala di sisi Allah. Di antara hami ada yang telah berlalu sebelum menikmati’ pahalanya di dunia ini sedihit pun juga. Di antaranya ialah Mush’ab bin Umair yang tewa s di perang Uhud. Tak sehelai pun kain untuk menutupinya selain sehelai burdah. Andainya ditaruh di atas kepalanya, terbukalah kedua belah kakinya. Sebaliknya bila ditutupkan ke kakinya, terbukalah kepalanya. Maka sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam “Tutupkanlah ke bagian kepalanya, dan dahinya tutupilah delagan rumput idzkhir!”

Betapa pun luka pedih dan duka yang dalam menimpa Rasulullah karena gugur pamanda Hamzah dan dirusak tubuhnya oleh orang-orang musyrik demikian rupa, hingga bercucurlah air mata Nabi …. Dan betapapun penuhnya medan laga dengan mayat para shahabat dan kawan-kawannya, yang masing-masing mereka baginya merupakan panji-panji ketulusan, kesucian dan cahaya …. Betapa juga semua itu, tapi Rasulullah tak melewatkan berhenti sejenak dekat jasad dutanya yang pertama, untuk melepas dan mengeluarkan isi hatinya …. Memang, Rasulullah berdiri di depan Mush’ab bin Umair dengan pandangan mata yang pendek bagai menyelubunginya dengan kesetiaan dan kasih sayang, dibacakannya ayat:
Di antara orang-orang Mu inin terdapat pahlawan-pahlawan yang telah menepati janjinya dengan Allah.(Q.S. 33 al-Ahzab: 23)

Kemudian dengan mengeluh memandangi burdah yang digunakan untuk kain tutupnya, seraya bersabda:
Ketika di Mekah dulu, tak seorang pun aku lihat yang lebih halus pakaiannya dan lebih rapi rambutnya daripadamu. Tetapi seharang ini, dengan rambutmu yang kusut masai, hanya dibalut sehelai burdah.

Setelah melayangkan pandang, pandangan sayu ke arah medan serta para syuhada kawan-kawan Mush’ab yang tergeletak di atasnya, Rasulullah berseru:
Sungguh, Rasulullah akan menjadi saksi nanti di hari qiamat, bahwa tuan-tuan semua adalah syuhada di sisi Allah.

Kemudian sambil berpaling ke arah shahabat yang masih hidup, sabdanya:
Hai manusia! Berziarahlah dan berltunjunglah kepada mereka, serta ucaphanlah salam Demi Allah yang menguasai nyawaku, tak seorang Muslim pun sampai hari qiamat yang memberi salam kepada mereka, pasti mereha akan mem balasnya.

Salam atasmu wahai Mush’ab ….
Salam atasmu sekalian, wahai para syuhada ….
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Rujukan:
http://www.kisah.web.id/sahabat/mushab-bin-umair.html

Wednesday, February 8, 2012

Tsawabit imaniyah dalam amal Islami siri 3

Prinsip yang seterusnya ialah Tajarrud dan Zahid

Prinsip ini sangat penting dan berguna dalam kehidupan harian seseorang yang tinggal di Malaysia dan juga di mana sahaja. Ini kerana suasana luaran di sini sentiasa mengajak kepada yang dosa dan maksiat. Apabila kita keluar sahaja dari rumah kita, kita akan dapati masyarakat yang ada saling bersaing sesama mereka untuk mengejar kebendaan dan keselesaan ekonomi. Fenomena ini bukan hanya berlaku kepada orang awam, bahkan turut terkena orang yang komited dengan agama mereka. Merekapun turut terjebak dengan perkara-perkara yang tidak bermoral.

Justeru itulah kita amat memerlukan sistem sokongan yang kuat melalui jalan tarbiah. Dengan jalan tarbiyah, iman kita akan dapat dijaga dan dilindungi daripada kerosakan yang ada.

Hendaklah kita sentiasa ingat seerah Mus’ab bin Umair ra. Kita lihat bagaimana kehidupan beliau sebelum ia masuk Islam dan bagaimana keadaan jenazah beliau dikafankan sebagai seorang Islam yang berjuang dan taat. Semasa masa sebelum pengislamannya, Mus’ab merupakan pemuda yang sangat terkenal di dalam masyarakat Quraiysh pada masa itu. Hidupnya dalam keadaan yang penuh dengan kemewahan. Tidak ada seorang pun penduduk Makkah yang boleh mengatasi gaya hidup mewahnya.

Sesudah beliau masuk Islam beliau bersama-sama dengan Ar Rasul SAW membela Islam. Semasa kematian beliau, didapati kain yang ada tidak mencukupi untuk menutupi jenazahnya.

Ini merupakan peristiwa yang amat menyedihkan. Musab ra. biasanya semasa sebelum Islam terbiasa memakai harir(sutera).

Apabila melihat peristiwa ini, seorang sahabi bernama Abdul Rahman bin ‘Auf ra. menangis kerana terkenang zaman Musab sebelum Islam dan saat jenazahnya dikafankan.

Kehidupan para sahabat r.hm yang seperti ini perlu kita ingatkan sentiasa kepada sahabat-sahabat kita. Ini bukan bermakna kita menggalakkan sahabat menjadi orang miskin dan papa kedana, Ini merupakan satu kefahaman yang salah.

Berkaitan dengan konsep zahid pula, pada asasnya jika kita diberi kekayaan oleh Allah SWT, kekayaan itu terletak pada tangan kita dan bukannya di hati. Kita tidak meminta untuk jadi miskin, akan tetapi jika ditakdirkan kita menjadi miskin, kita akan terus untuk sentiasa melakukan kebaikan.

Friday, February 3, 2012

Muhajirin dan Ansor

Mengambil teladan daripada Sirah sebagai panduan kita bekerja dalam menegakkan deen Allah SWT.

Berikut dikongsikan detik-detik awal persaudaraan Muhajirin dan Ansor. Di sana terdapat pengajaran-pengajaran yang berguna untuk kita semua.

w/a

Read on:


Unta yang dinaiki Nabi alaihi ssalam berlutut di tempat penjemuran kurma milik Sahl dan Suhail b. Amr. Kemudian tempat itu dibelinya guna dipakai tempat membangun mesjid. Dalam membangun mesjid itu Muhammad juga turut bekerja dengan tangannya sendiri. Selesai mesjid itu dibangun, di sekitarnya dibangun pula tempat-tempat tinggal Rasul. Baik pembangunan mesjid maupun tempat-tempat tinggal itu tidak sampai memaksa seseorang, karena segalanya serba sederhana, disesuaikan dengan petunjuk-petunjuk Muhammad.

Selesai Muhammad membangun mesjid dan tempat-tinggal, ia pindah dari rumah Abu Ayyub ke tempat ini. Sekarang terpikir olehnya akan adanya hidup baru yang harus dimulai, yang telah membawanya dan membawa dakwahnya itu harus menginjak langkah baru lebih lebar. Segala tujuan dan daya-upaya, yang pertama dan yang terakhir, ialah meneruskan risalah, yang penyampaiannya telah dipercayakan Tuhan kepadanya, dengan mengajak dan memberikan peringatan.

Penduduk Yathrib pada waktu itu terdiri dari kaum Muslimin - Muhajirin dan Anshar – orang-orang musyrik dari sisa-sisa Aus dan Khazraj - sedang hubungan kedua golongan ini sudah sama-sama kita ketahui; kemudian orang-orang Yahudi: Banu Qainuqa di sebelah dalam, Banu Quraiza di Fadak, Banu’n-Nadzir tidak jauh dari sana dan Yahudi Khaibar di Utara.

Ada pun kaum Muhajirin dan Anshar, karena solidaritas agama baru itu, mereka sudah erat sekali bersatu. Sungguhpun begitu, kekuatiran dalam hati Muhammad belum hilang samasekali, kalau-kalau suatu waktu kebencian lama di kalangan mereka akan kembali timbul. Sekarang terpikir olehnya bahwa setiap keraguan semacam itu harus dihilangkan.

Sebaliknya golongan musyrik dari sisa-sisa Aus dan Khazraj, akibat peperangan-peperangan masa lampau, mereka merasa lemah sekali di tengah-tengah kaum Muslimin dan Yahudi itu.

Selanjutnya golongan Yahudi dengan tiada ragu-ragu merekapun menyambut baik kedatangan Muhammad dengan dugaan bahwa mereka akan dapat membujuknya dan sekaligus merangkulnya ke pihak mereka, serta dapat pula diminta bantuannya membentuk sebuah jazirah Arab. Dengan demikian mereka akan dapat pula membendung Kristen, yang telah mengusir Yahudi, -bangsa
pilihan Tuhan – dari Palestina, Tanah yang Dijanjikan dan tanah air mereka itu.

Sekarang ia bermusyawarah dengan kedua wazirnya itu Abu Bakr dan Umar. Yang menjadi pokok pikirannya yang mula-mula ialah menyusun barisan kaum Muslimin serta mempererat persatuan mereka, guna menghilangkan segala bayangan yang akan membangkitkan api permusuhan lama di kalangan mereka itu. Untuk mencapai maksud ini diajaknya kaum Muslimin supaya masing-masing dua bersaudara, demi Allah. Dia sendiri bersaudara dengan Ali b. Abi Talib. Hamzah pamannya bersaudara dengan Zaid bekas budaknya. Abu Bakr bersaudara dengan Kharija b. Zaid. Umar ibn’l-Khattab, bersaudara dengan ‘Itban b. Malik al-Khazraji.

Demikian juga setiap orang dari kalangan Muhajirin yang sekarang sudah banyak jumlahnya di Yathrib - sesudah mereka yang tadinya masih tinggal di Mekah menyusul ke Medinah setelah Rasul hijrah - dipersaudarakan pula ; dengan setiap orang dari pihak Anshar, yang oleh Rasul lalu dijadikan hukum saudara sedarah senasib. Dengan persaudaraan demikian ini persaudaraan kaum Muslimin bertambah kukuh adanya.

Ternyata kalangan Anshar memperlihatkan sikap keramahtamahan yang luarbiasa terhadap saudara-saudara mereka kaum Muhajirin ini, yang sejak semula sudah mereka sambut dengan penuh gembira. Abdur-Rahman b. ‘Auf yang sudah bersaudara dengan Sa’d bin’r-Rabi’ ketika di Yathrib ia sudah tidak punya apa-apa lagi. Ketika Sa’d menawarkan hartanya akan dibagi dua, Abdur-Rahman menolak. Ia hanya minta ditunjukkan jalan ke pasar. Dan di sanalah ia mulai berdagang mentega dan keju. Dalam waktu tidak berapa lama, dengan kecakapannya berdagang ia telah dapat mencapai kekayaan kembali, dan dapat pula memberikan mas-kawin kepada salah seorang wanita Medinah. Bahkan sudah mempunyai kafilah-kafilah yang pergi dan pulang membawa perdagangan.
Selain Abdur-Rahman, dari kalangan Muhajirin, banyak juga yang telah melakukan hal serupa itu.

Adapun mereka yang tidak melakukan pekerjaan berdagang, diantaranya ialah Abu Bakr, Umar, Ali b. Abi Talib dan lain-lain. Keluarga-keluarga mereka terjun kedalam pertanian, menggarap tanah milik orang-orang Anshar bersama-sama pemiliknya. Tetapi selain mereka ada pula yang harus menghadapi kesulitan dan kesukaran hidup. Sungguhpun begitu, mereka ini tidak mau hidup menjadi beban orang lain. Merekapun membanting tulang bekerja, dan dalam bekerja itu mereka merasakan adanya ketenangan batin, yang selama di Mekah tidak pernah mereka rasakan.

Di samping itu ada lagi segolongan orang-orang Arab yang datang ke Medinah dan menyatakan masuk Islam, dalam keadaan miskin dan serba kekurangan sampai-sampai ada diantara mereka yang tidak punya tempat tinggal. Bagi mereka ini oleh Muhammad disediakan tempat di selasar mesjid yaitu shuffa [bahagian mesjid yang beratap] sebagai tempat tinggal mereka. Oleh karena itu mereka diberi nama Ahl’sh-Shuffa (Penghuni Shuffa). Belanja mereka diberikan dari harta kaum Muslimin, baik dari kalangan Muhajirin maupun Anshar yang berkecukupan.

Antara kaum Muhajirin dan Anshar dengan orang-orang Yahudi, Muhammad membuat suatu perjanjian tertulis yang berisi pengakuan atas agama mereka dan harta-benda mereka, dengan syarat-syarat timbal balik, antara lain (yang penting) adalah sebagai berikut:

“Bahwa orang-orang yang beriman tidak boleh membiarkan seseorang yang menanggung beban hidup dan hutang yang berat diantara sesama mereka. Mereka harus dibantu dengan cara yang baik dalam membayar tebusan tawanan atau membayar diat.
”Bahwa seseorang yang beriman tidak boleh mengikat janji dalam menghadapi mukmin lainnya.
”Bahwa orang-orang yang beriman dan bertakwa harus melawan orang yang melakukan kejahatan diantara mereka sendiri, atau orang yang suka melakukan perbuatan aniaya, kejahatan, permusuhan atau berbuat kerusakan diantara orang-orang beriman sendiri, dan mereka semua harus sama-sama melawannya walaupun terhadap anak sendiri.
”Bahwa seseorang yang beriman tidak boleh membunuh sesama mukmin lantaran orang kafir untuk melawan orang beriman.
”Bahwa barangsiapa dari kalangan Yahudi yang menjadi pengikut kami, ia berhak mendapat pertolongan dan persamaan; tidak menganiaya atau melawan mereka
”Bahwa persetujuan damai orang-orang beriman itu satu; tidak dibenarkan seorang mukmin mengadakan perdamaian sendiri denganmeninggalkan mukmin lainnya dalam keadaan perang di jalan Allah. Mereka harus sama dan adil adanya.
”Bahwa setiap orang yang berperang bersama kami, satu sama lain harus saling bergiliran.
“Bahwa barangsiapa membunuh orang beriman yang tidak bersalah dengan cukup bukti maka ia harus mendapat balasan yang setimpal kecuali bila keluarga si terbunuh sukarela (menerima tebusan).
”Bahwa orang-orang Yahudi harus mengeluarkan belanja bersama-sama orang-orang beriman selama mereka masih dalam keadaan perang.
“Bahwa orang-orang Yahudi berkewajiban menanggung nafkah mereka sendiri dan kaum Musliminpun berkewajiban menanggung nafkah mereka sendiri pula. Antara mereka harus ada tolong menolong dalam menghadapi orang yang hendak menyerang pihak yang mengadakan piagam perjanjian ini.
“Bahwa orang-orang Yahudi berkewajiban mengeluarkan belanja bersama orang-orang beriman selama masih dalam keadaan perang.
”Bahwa tempat yang dihormati itu tak boleh didiami orang tanpa ijin penduduknya.
”Bahwa antara mereka harus saling membantu melawan orang yang mau menyerang Yathrib ini. Tetapi apabila telah diajak berdamai maka sambutlah ajakan perdamaian itu.
”Bahwa apabila mereka diajak berdamai, maka orang-orang yang beriman wajib menyambutnya, kecuali kepada orang yang memerangi agama. Bagi setiap orang, dari pihaknya sendiri mempunyai bagiannya masing-masing.


Demikianlah, seluruh kota Medinah dan sekitarnya telah benar-benar jadi terhormat bagi seluruh penduduk. Mereka berkewajiban mempertahankan kota ini dan mengusir setiap serangan yang datang dari luar. Mereka harus bekerja sama antara sesama mereka guna menghormati segala hak dan segala macam kebebasan yang sudah disetujui bersama dalam dokumen ini

Pada masa ini, Muhammad menyelesaikan perkawinannya dengan Aisyah bt. Abi Bakr, yang waktu itu baru berusia sepuluh atau sebelas tahun. Ia adalah seorang gadis yang lemah-lembut dengan air muka yang manis dan sangat disukai dalam pergaulan. Ketika itu ia sedang menjenjang remaja puteri, mempunyai kegemaran bermain-main dan bersukaria.

Dalam suasana kaum Muslimin yang sudah mulai tenteram menjalankan tugas-tugas agama itu, pada waktu itu kewajiban zakat dan puasa mulai pula dijalankan hukumnya. Di Yathrib inilah Islam mulai menemukan kekuatannya. Bila ketika itu waktu-waktu sembahyang sudah tiba, orang berkumpul bersama-sama tanpa dipanggil. Lalu terpikir akan memanggil orang bersembahyang dengan mempergunakan terompet seperti orang-orang Yahudi. Tetapi dia tidak menyukai terompet itu. Lalu dianjurkan mempergunakan genta, yang akan dipukul waktu sembahyang, seperti dilakukan oleh orang-orang Nasrani.

Tetapi kemudian sesudah ada saran dari Umar dan sekelompok Muslimim – menurut satu sumber, – atau dengan perintah Tuhan melalui wahyu, menurut sumber lain – penggunaan genta inipun dibatalkan dan diganti dengan azan. Selanjutnya diminta kepada Abdullah b. Zaid b. Tha’laba:

“Kau pergi dengan Bilal dan bacakan kepadanya – maksudnya teks azan – dan suruh dia menyerukan azan itu, sebab suaranya lebih
merdu dari suaramu.”

Landasan pertama yang diajarkan Rasulullah SAW ialah persaudaraan umat manusia: persaudaraan yang akan mengakibatkan seseorang tidak sempurna imannya sebelum ia dapat mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri dan sebelum persaudaraan demikian itu dapat mencapai kebaikan dan rasa kasih-sayang tanpa suatu sikap lemah dan mudah menyerah. Ada orang yang bertanya kepada Muhammad;
“Perbuatan apakah yang baik dalam Islam?”
Dijawab:
“Sudi memberi makan dan memberi salam kepada orang yang kaukenal dan yang tidak kaukenal.”

Kebaikan dan kasih-sayang yang sudah menjadi sendi persaudaraan itu, yang dalam peradaban dunia modern sekarang juga menjadi dasar bagi seluruh umat manusia tidak hanya terbatas sampai di situ saja, melainkan melampaui sampai kepada binatang juga. Dia sendiri yang bangun membukakan pintu untuk seekor kucing yang sedang berlindung di tempat itu. Dia sendiri yang merawat seekor ayam jantan yang sedang sakit; kudanya dielus-elusnya dengan lengan bajunya. Bila dilihatnya Aisyah naik seekor unta, karena menemui kesukaran lalu
binatang itu ditarik-tariknya, iapun ditegurnya: “Hendaknya kau berlaku lemah-lembut.” Kasih-sayangnya itu meliputi segala hal, dan selalu memberi perlindungan kepada siapa saja yang memerlukannya.

Disinilah dasar peradaban Islam yang berbeda dengan sebahagian besar peradaban-peradaban lain. Islam menekankan pada keadilan disamping persaudaraan itu, dan berpendapat bahwa tanpa adanya keadilan ini persaudaraan tidak mungkin ada.

“Barangsiapa menyerang kamu, seranglah dengan yang seimbang, seperti mereka menyerang kamu.” (Qur’an, 2: 194)

“Dengan hukum qishash berarti kelangsungan hidup bagi kamu, hai orang-orang yang mengerti.” (Qur’an, 2: 179)


Ada seorang rabbi yang cerdik-pandai, yaitu Abdullah b. Sallam yang telah berhubungan dengan Nabi iapun lalu memeluk Islam; dan dianjurkannya pula keluarganya. Lalu merekapun bersama-sama memeluk agama Islam.

Abdullah bin Sallam merasa kuatir akan ada kata-kata yang tidak biasa yang akan dilontarkan orang-orang Yahudi jika mereka mengetahui ia sudah menganut Islam. Maka dimintanya kepada Nabi untuk menanyai mereka tentang dirinya itu sebelum mereka mengetahui bahwa dia sudah Islam. Ternyata mereka berkata: dia pemimpin kami, pendeta kami dan orang cerdik-pandai kami. Setelah Abdullah berhadapan dengan mereka dan sekarang jelas sudah sikapnya, bahkan mengajak mereka menganut ajaran Islam, merekapun merasa kuatir akan nasibnya itu nanti. Maka di seluruh perkampungan Yahudi itu iapun mulai difitnah dan diumpat dengan kata-kata yang tak senonoh. Dalam hal ini mereka lalu sepakat akan berkomplot terhadap Muhammad menolak kenabiannya. Secepat itu pula sisa-sisa orang yang masih musyrik dari kalangan Aus dan Khazraj serta mereka yang pura-pura masuk Islam segera menggabungkan diri dengan mereka, baik karena mau mengejar keuntungan materi atau karena mau menyenangkan golongannya atau pihak yang berpengaruh

Sekarang mulai terjadi suatu perang polemik antara Muhammad dengan orang-orang Yahudi, yang ternyata lebih bengis dan lebih licik daripada perang polemik yang dulu pernah terjadi antara dia dengan orang-orang Quraisy di Mekah. Mereka mengadakan intrik melalui pendeta-pendeta mereka yang pura-pura Islam dan yang dapat bergaul ke tengah-tengah kaum Muslimin dengan pura-pura sangat takwa sekali, yang kemudian lalu sekali-kali memperlihatkan kesangsian dan keraguannya.

Tidak cukup dengan maksud mau menimbulkan insiden antara Muhajirin dengan Anshar dan antara Aus dengan Khazraj dan tidak pula cukup dengan membujuk kaum Muslimin supaya meninggalkan agamanya dan kembali menjadi syirik tanpa mencoba-coba mengajak mereka menganut agama Yahudi, bahkan lebih dari itu orang Yahudi itu kini berusaha memperdaya Muhammad sendiri. Pendekar-pendekar mereka, pemuka-pemuka dan pemimpin-pemimpin mereka datang menemuinya dengan mengatakan: “Tuhan sudah mengetahui keadaan kami, kedudukan kami. Kalau kami mengikut tuan, orang-orang Yahudipun akan juga ikut dan mereka tidak akan menentang kami. Sebenarnya antara kami dengan beberapa kelompok golongan kami timbul permusuhan. Lalu kami datang ini minta keputusan tuan. Berilah kami keputusan. Kami akan ikut tuan dan percaya kepada tuan.”

Di sinilah firman Tuhan menyebutkan:

“Dan hendaklah engkau memutuskan perkara diantara mereka menurut apa yang sudah diturunkan Allah, dan jangan kauturuti hawa-nafsu mereka. Berhati-hatilah terhadap mereka. Jangan sampai mereka memperdayakan kau dari beberapa peraturan yang sudah ditentukan Tuhan kepadamu. Tetapi kalau mereka menyimpang, ketahuilah, Tuhan akan menurunkan bencana kepada mereka karena beberapa dosa mereka sendiri juga. Sesungguhnya, kebanyakan manusia itu adalah orang-orang fasik. Adakah yang mereka kehendaki itu hukum jahiliah? Dan hukum siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi mereka yang yakin?” (Qur’an, 5: 49-50)

Waktu sedang sengit-sengitnya terjadi polemik antara Muhammad dengan orang-orang Yahudi itu, delegasi pihak Nasrani dari Najran tiba di Medinah, terdiri dari enampuluh buah kendaraan. Diantara mereka terdapat orang-orang terkemuka, orang-orang yang sudah mempelajari dan menguasai seluk-beluk agama mereka. Pada waktu itu penguasa-penguasa Rumawi yang juga menganut agama Nasrani sudah memberikan kedudukan, memberikan bantuan harta, memberikan bantuan tenaga serta membuatkan gereja-gereja dan kemakmuran buat kaum Nasrani Najran itu.

Dengan datangnya delegasi ini dan polemiknya dengan Nabi serta dibukanya kancah pertarungan theologis yang sengit antara orang-orang Yahudi, Nasrani dan Islam maka ketiga agama Kitab ini sekarang berkumpul. Dari pihak Yahudi, mereka memang menolak samasekali ajaran Isa dan Muhammad, yang dasarnya karena sikap keras kepala. Sedang pihak Nasrani, paham mereka adalah Trinitas dan menuhankan Isa. Sebaliknya Muhammad, ia mengajak orang kepada keesaan Tuhan dan kepada kesatuan rohani yang sudah diatur oleh alam sejak awal yang ajali sampai pada akhir yang abadi – sejak dunia ini berkembang sampai ke akhir zaman. Orang-orang Yahudi dan
Nasrani itu bertanya kepadanya, kepada siapa-siapa diantara para rasul itu ia beriman. Ia menjawab:

“Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkanNya kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya’qub serta anak-cucunya, dan apa yang telah diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang telah diberikan Tuhan kepada nabi-nabi. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun diantara mereka, dan kamipun patuh kepadaNya.” (Qur’an 2: 136)


Rujukan:

http://www.kisah.web.id/rosulullah-saw/saat-saat-awal-di-madinah.html

Tuesday, January 31, 2012

Sirah Ketaatan Kaab bin Malik

Telah diriwayatkan bahawa Ka’ab bin Malik tidak pergi bersama-sama Ar Rasul SAW di dalam perang Tabuk. Ar Rasul SAW mengeluarkan arahan supaya memulaukan Ka’ab bin Malik. Sahabat-sahabat diarahkan supaya tidak menjawab salam Ka’ab. Apabila Ka’ab ditanya oleh Ar Rasul SAW mengapa dia tidak menyertai perang Tabuk, makan Kaab, menjawab: Bukannya saya tidak mahu pergi, tetapi saya tidak tahu mengapa saya tidak pergi.

Ka’ab memang benar-benar ikhlas, dia bercerita benar dan tidak mahu mencari-cari alasan-alasan yang boleh membebaskannya. Ka’ab telah dipulau selama 50 hari. Dalam hari-hari tersebut Ka’ab merasakan kepahitan dan keperitan yang amat sangat. Hati mana yang sanggup menghadapi keadaan sedemikian? Sahabat-sahabat yang terdekat pun tidak menjawab salamya. Suatu hari ia begitu kecewa dan ia memanjat tembok sebelah rumahnya dan ia berkata kepada jirannya: Wahai kamu, ingat aku tidak kasihkan Ar Rasul SAW? Jirannya menjawab: Allah dan Rasul lebih mengetahui.

Ka’ab menceritakan di hari-hari tersebut yang dialaminya. Dia merasakan seolah-olah kakinya tidak berpijak di bumi. Dalam hari-hari tersebut Ka’ab masih tetap ke masjid untuk solat berjemaah. Dia sentiasa menghadapkan wajah wajahnya kepada Ar Rasul SAW dan memerhatikan apakah Ar Rasul SAW memandangnya. Namun demikian, Ar Rasul SAW tidak memalingkan kepadanya. Ka’ab masih tetap bersabar. Pada suatu hari, Ar Rasul SAW mengeluarkan arahan kepada Ka’ab supaya merenggangkan sedikit daripada isterinya. Ka’ab terus bertanya: Apakah perlu saya terus ceraikan isteri saya? Jawab Ar Rasul SAW: tidak perlu. Ka’ab terus berkata kepada isterinya: Baliklah ke rumah ibu engkau wahai isteriku.

Dalam tempuh yang genting itu, datang pula seorang utusan dari Raja Ghassan membawa sepucuk surat mempelawa Ka’ab tinggal bersama mereka. Isi surat berbunyi: Wahai Ka’ab, kami mengetahui kedudukanmu sekarang. Datanglah kepada kami, nescaya kami akan melayanimu dan menjagamu. Ka’ab terus mencampakkan surat tersebut dan berkata: Ini suatu bala. Setelah 50 hari berlalu maka turunlah ayat Allah SWT memansuhkan hukuman tadi. Ka’ab dan sahabat-sahabat lain terus berkumpul di masjid. Mereka menangis dan berpelukan di antara satu sama lain dan mengucapkan setinggi-tinggi kesyukuran ke hadrat Allah SWT.

Pengajaran:
1. Daripada contoh di atas dan banyak lagi contoh yang lain telah menampakkan betapa berjayanya tarbiah Ar Rasul SAW.
2. Sistem hari ini gagal melahirkan manusia rabbanidan insani.
3. Untuk mengubati masyarakat secara menyeluruh, maka perlulah kita kembali mengambil tarbiyah Islamiah yang telah dicontohkan oleh generasi awal yang pertama di madrasah Ar Rasul SAW.

Tsawabit imaniyah dalam amal Islami siri 2

Prinsip yang seterusnya ialah kita perlu memanfaatkan masa, kesihatan dan kebebasan (freedom)

Ar Rasul SAW bersabda:

نعمتا ن مغبون كثير من النا س : الصحة والفر اغ
Maksudnya :

Dua nikmat yang sering manusia lupa iaitu sihat dan masa lapang.

Kita semua perlu sentiasa muhasabah sejauh manakah kita telah gunakan masa sihat dan masa lapang yang ada. Adakah kita gunakan nikmat ini untuk diisi dengan perkara yang bermanfaat. Perkara tambahan bagi nikmat yang lain ialah nikmat kebebasan, misalnya yang seperti yang kita kecapi di ekarang ini. Di sini, kita boleh bergerak melaksanakan tuntutan deen dengan menggunakan wasilah yang mashhru' dan diluluskan oleh undang-undang negara . Justeru itu, buatlah sebanyak yang kita mungkin semasa ruang kebebasan masih ada.

Wednesday, January 25, 2012

Tsawabit imaniyah dalam amal Islami siri 1

MUQADDIMAH

Di dalam kita melaksanakan kerja dakwah Islamiah di mana sahaja, di sana terdapat panduan dalam aspek tsawabit dan mutaghayyirat. Yang termasuk dalam kategori yang tetap ialah perkara yang ada hubung kait dengan keimanan.

Antara prinsip-prinsip asas yang tetap dalam amal dakwah adalah seperti berikut:-

1. Kita mestilah sentiasa meletakkan akhirat di dalam kehidupan kita.

Kita hendaklah seolah-olah dapat melihat akhirat di depan mata kita.

Semasa perang Khandaq, baginda SAW membaca doa berikut:
اللهم لا عيش الا عيش الا خرة- فاغفرلاانصاروالمهاجرة

Ertinya:
Tidak ada kehidupan yang sebenar melainkan kehidupan akhirat, maka ampunlah dosa kaum Ansar dan Muhajirin.

Berdasarkan doa tadi, jelas kepada kita bahawa kita perlu sentiasa melihat semua aspek dalam kehidupan bagi mendapat redha Allah SWT. Prinsip penting ini kita tidak boleh pisahkan.

Ar Rasul SAW bersabda:

Tempat tinggal yang diberikan di dalam syurga oleh Allah SWT adalah jauh lebih baik daripada seluruh dunia dan seisinya.

Ar Rasul SAW bersabda lagi:

Perniagaan yang kamu lakukan dengan berjihad pada jalannya adalah baik daripada seluruh dunia dan seisinya.

Justeru itu kita perlu lihat segala sesuatu dari kaca mata akhirat.

Kita perlu mempastikan kefahaman ini sentiasa berlegar di dalam fikiran kita. Walaupun semasa kita membuat perancangan yang pada zahirnya tidak ada kaitan langsung dengan iman.

Sunday, December 25, 2011

Islam Syumul siri 3

Fikrah kita ialah fikrah Islam atau Din Islam. Din Islam ialah Din terawal dan kekal abadi. Din Islam yang dibawa oleh Rasulullah SAW, para sahabat RA dan pengikut-pengikut mereka hinggalah ke Hari Akhirat kelak. Din Islam ialah satu peraturan hidup yang luas, lengkap dan merangkumi semua ruang hidup.

Kita tidak boleh menambah dan mengurangkan pada mana-mana bahagian ajaran Allah SWT. Di dalam apa hal sekali pun, kita tidak boleh mendahului Islam. Kita adalah pengikut ajaran Allah SWT. Pengikut hendaklah berada di belakang.

Kita perlu menyesuaikan diri dengan Islam

Kita mestilah membentuk jiwa supaya serasi dengan ajaran Allah SWT. Jiwa dan hati hendaklah diperoses dengan Iman hingga sanggup patuh dan tunduk kepada semua ajaran Allah SWT. Kita wajib memahami Islam sebagaimana yang dikehendaki Allah SWT. Kita wajib memahami Islam sebagaimana yang difahami oleh para sahabat yang menerima Islam di Madrasah Rasulullah SAW. Kita tidak boleh memahami Islam sebagaimana yang manusia atau sebagaimana yang kita sendiri mahu. Kita perlu memahami Islam sebagaimana tuntutan dan kehendak Allah SWT. Kita tidak menurut hawa nafsu kita dalam memahami Islam. Kita mahukan Islam yang asli. Kita tidak mencampuradukkan ajaran Islam dengan ajaran yang lain. Kita perlu bersungguh-sungguh memahami Tasawwur Islam.

Islam sahaja yang benar

Islam sahajalah yang mampu menolak kekeliruan-kekeliruan yang terdapat pada sesetengah menusia. Kita tidak mudah terpengaruh dengan “nama-nama” yang elok sedangkan isinya kosong. Sesungguhnya orang mu’min itu cerdik, bijak serta pintar dan ia tidak mudah untuk ditipu dengan nama-nama sahaja. Kita perlu ketengahkan fikrah Islam. Kita perlu sebarkan fikrah Islam kepada orang ramai dengan jelas dan terang. Kita tidak boleh menghilangkan walau pun satu huruf daripada fikrah Islam yang sebenar. Untuk mendapatkan dan menyampaikan Islam sebenar, kita perlu mengambil Islam itu dari sumber-sumber yang sah iaitu al-Quran,as-Sunnah Rasulullah SAW dan huraian-huraian ulama’-ulama’ muktabar. Sumber kita adalah sumber syar’i.

Seluruh bidang hidup kita perlu berpandukan Din Allah SWT. Din Islam sahajalah yang diredhai Allah SWT. Firman Allah SWT:

“Sesungguhnya Din yang diredhai di sisi Allah hanya al-Islam.”
Surah Ali-’Imran: ayat 19

“Sesiapa yang mencari selain daripada Islam sebagai Din, maka sama sekali tidak diterima daripadanya, di akhirat kelak termasuk ke dalam golongan orang yang rugi.” Surah Ali ‘Imran: ayat 85

Apabila Allah SWT tidak menerima orang yang mengambil Din yang lain, maka di akhirat kelak dia termasuk ke dalam golongan orang yang rugi. Amat rugi. Kerugian dari “kaca mata” Allah SWT. Kerugian mengikut nilai Rabb al-Jalil bukan mengikut nilai manusia. Allah SWT juga telah memberikan kata dua kepada manusia samada memilih Islam atau kekufuran. Firman Allah SWT:

“Dan katalah al-Haq itu datangnya dari Tuhanmu, maka barang siapa yang ingin beriman maka hendaklah ia beriman dan barang siapa yang ingin kafir hendaklah ia kafir. Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang- orang kafir itu neraka yang bergejolak mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, nescaya mereka akan diberi minum air seperti besi mendidih (cair) yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.” Surah al-Kahfi: ayat 29

Kita perlu iltizam dengan ajaran Islam dan kita persaksikan Islam dalam bentuk kehidupan. Di waktu yang sama kita wajib mempertahankan Islam. Mempertahankan kefahaman Islam sebenar.
Kita perlu sedar bahawa ilmu semata-mata tidak dapat membentuk manusia agar benar-benar bertanggungjawab kepada Islam. Hari ini ramai orang mempunyai ilmu Islam tetapi Islam tidak dapat dilihat dalam praktik hidup mereka. Mereka sebenarnya masih belum beriman kepada Allah SWT dengan sebenar-benar Iman. Apabila seseorang itu tidak patuh kepada Allah SWT dalam semua bidang hidup, maka bermakna imannya masih lemah.

Oleh yang demikian ilmu Islam perlu ditarbiyyah dengan Tarbiyyah Imaniyyah hingga lahir kesedaran dan kefahaman yang mendalam. Kita perlu diproses hingga kita menerima apa sahaja yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Dengan melalui proses ini, hati kita akan merasa betul dan tepat dengan tuntutan ajaran Allah SWT.

Berpuas hati hanya dengan Islam


Kita perlu terus menerus mengikut ajaran Islam tanpa berdolak dalih lagi. Islam perlu kita hayati hingga kita merasa nikmat dengannya. Hingga, apabila tidak mengamalkan Islam, kita merasakan tidak senang dan gelisah. Perasaan tidak puas hati dengan Islam telah disumpah oleh Allah SWT di dalam Firman-Nya:

“Maka demi Tuhanmu, mereka pada hakikatnya tidak beriman sehingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa di dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap keputusan yang kamu berikan dan mereka menerima sepenuhnya.” Surah an-Nisa’: ayat 65

Ayat ini menjelaskan bahawa kita tidak dapat dikatakan benar-benar beriman kepada Allah SWT dan Rasul-Nya sehinggalah kita kembali kepada ajaran Rasulullah SAW dalam semua urusan, sekaligus kita redha pula kepada segala keputusan yang telah diputuskan oleh Rasulullah SAW.

Kepatuhan yang berterusan

Kepatuhan kita kepada ajaran Rasulullah SAW, bukanlah sekadar di dalam program-program rasmi sahaja. Jika kepatuhan kita sedemikian, bermakna Islam itu belum lagi lahir dalam bentuk malakah (sebati) pada diri dan dalam jiwa kita.
Kita memerlukan pendidikan Islam secara berterusan agar Islam menjadi sebati dengan kita. Kita perlu dididik hingga Iman itu lahir dalam bentuk tindakan. Kita perlu dididik hingga kita berbuat sesuatu kerana Islam. Hidup dan mati untuk Islam. Barulah lahir ‘Ubudiyyah Lillahi Wahdah.

Sekiranya kita tidak dididik kemungkinan kita lakukan sesuatu bukan untuk Islam atau kerana yang lain daripada Allah SWT. Apabila melakukan sesuatu tidak kerana Allah maka Allah tidak akan menerima amalan tersebut.

Hanya untuk Allah

Apabila kita melakukan sesuatu kerja Islam, kita perlu benar-benar mencari keredhaan Allah SWT, tanpa mengambil kira keuntungan duniawi. Kita tidak memerlukan dorongan-dorongan lain untuk melakukan kerja-kerja Islam. Kita hanya mengharap janji-janji Allah SWT. Sesiapa yang lebih melakukan amal Islami dengan ikhlas maka dialah yang lebih mendapat pahala. Bagi mereka yang hidup hanya mencari keredhaan Allah SWT, apa yang ada di sisi mereka seperti harta, tenaga dan jiwa adalah untuk Allah SWT semata-mata .

Dengan aqidah yang bersih dan amal yang ikhlas, kita akan menjadi Jund ‘Aqidah Wa Fikrah. Pahlawan yang benar-benar mempunyai sifat Jundiyyah (perajurit) yang dibina atas dasar Islam. Dengan penyerahan total kepada Allah SWT, barulah kita boleh melahirkan tentera aqidah dan fikrah. Tentera yang menerima arahan daripada kepimpinan dalam rangka melaksanakan apa yang dituntut oleh Allah SWT. Tentera yang bekerja kerana Allah SWT bukan kerana yang lain. Sayyidina Khalid Ibn al-Walid telah memberikan contoh kita. Ketika dia digantikan oleh Sayyidina U’mar dengan ‘Ubaidah al-Jarrah sebagai panglima tinggi tentera Islam, dia tidak sedikit pun menunjukkan rasa kecewa. Katanya, “Aku berperang kerana Allah SWT bukan kerana ‘Umar”. Khalid berjuang kerana Allah SWT bukan kerana pangkat. Sememangnya kita perlu dilatih untuk mencapai tahap sedemikian. Firman Allah SWT:

“Katakanlah: Sesungguhnya solahku, ibadahku, hidupku dan matiku untuk Allah, Tuhan sekelian alam. Tiada sekutu bagiNya dan demikian itu diperintahkan bagiku dan akulah yang pertama-tama menyerah diri kepada Allah.” Surah al-An’am: ayat 162-163.

Melaksanakan Islam keseluruhannya

Sabda Rasulullah SAW yang bermaksud:
“Bertaqwalah kamu kepada Allah di mana sahaja kamu berada.”

Hadith ini memberi maksud bahawa kita perlu bertaqwa kepada Allah SWT kerana Islam itu telah sempurna. Kita wajib iltizam kepada Islam secara keseluruhan. Kita tidak boleh mengambil Islam sebahagian dan meninggalkan sebahagian yang lain. Kita perlu mengambil Islam keseluruhan dan melaksanakannya dalam batas kemampuan yang kita miliki. Sememangnya kita ingin melaksanakan keseluruhan Islam, tetapi ketiadaan Daulah pada hari ini menyebabkan kemampuan kita sangat terbatas dan tidak terbela. Kita hanya dapat melaksanakan mengikut kadar kekuatan Ummah ketika ini.

Dari segi tanggungjawab, sememangnya tanggungjawab kita berbeza bentuk dan kadarnya. Orang yang telah berkahwin, kadar tanggungjawabnya lebih daripada orang yang belum berkahwin. Begitu juga dalam hal-hal lain. Kita perlu melaksanakan tanggungjawab kita sedaya yang mungkin. Dengan cara ini, InsyaAllah kita akan berada di dalam golongan orang-orang yang beriman dan beramal saleh.


“Seiapa yang melihat kemungkaran hendaklah ia mengubahkan dengan tangannya, sekiranya ia tidak mampu maka hendaklah ia mengubahkan dengan lisannya, sekiranya ia tidak mampu hendaklah ia mengubahkan dengan hatinya, yang demikian itu adalah selemah-lemah Iman.”

Kebanyakan manusia hari ini telah membeli kehidupan dunia dan menolak akhirat. Mereka menolak ajaran Islam yang syumul. Mereka mengasing dan mengenepikan Islam dalam realiti kehidupan seharian. Islam ‘terkurung’ di dalam masjid. Islam hanya boleh diambil dari segi solah, puasa, zakat dan haji sahaja. Undang-undang Syari’ah tidak boleh diambil kerana tidak bersesuaian dengan tuntutan dan kehendak masyarakat semasa. Firman Allah SWT:

“Wahai orang-orang yang beriman masuklah kamu ke dalam Islam sepenuhnya dan janganlah kamu menuruti langkah-langkah syaitan. Sesunguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.”-Surah al-Baqarah: ayat 208.

Ayat di atas menyeru kita agar menerima Islam keseluruhannya.


Kita hanya berusaha dan bertawakkal

Generasi Al Qur’an pertama, iaitu para sahabat RA, ada antara mereka yang belum sempat melihat natijah Islam tetapi telah sanggup disiksa dan dibunuh. Mereka sanggup berkorban apa sahaja demi menegakkan Islam dan mewujudkan masyarakat yang menepati kehendak Allah SWT. Mereka bersabar dalam melaksanakan tuntutan aqidah. Apabila keluarga Yasir telah disiksa maka Rasulullah SAW yang melalui tempat dia disiksa berkata,

“Bersabarlah wahai keluarga Yasir, sesungguhnya tempat kembali kamu adalah Jannah.”

Yang paling baik bagi kita ialah terus berusaha, bekerja dan berkorban untuk mengajak masyarakat kembali kepada al-Islam. Kita berdoa kepada Allah SWT agar kita digolongkan di dalam Kafilah Da’wah atau Kafilah Mujahidin. Sekiranya kita tidak mahu melakukan kerja-kerja ini maka bermakna kita menolak kurniaan Allah SWT. Balasan yang baik hanyalah ketentuanNya. Kita perlu sentiasa berdo’a agar kita sentiasa berada dalam rahmat dan redha-Nya.

DAKWAH MELALUI TIKTOK DAN KESANNYA KEPADA REMAJA MUSLIM DI MALAYSIA

  DAKWAH MELALUI TIKTOK DAN KESANNYA KEPADA REMAJA MUSLIM DI MALAYSIA   Mohd Amirul Hafiz Ahmad, Solehuddin Shuib, Khairulazhar Samsudin...