Friday, October 19, 2012

Amaliyah Dalam Rangka Menghidupkan Rabbaniyah Pada 10 Dzulhijjah

Kami ketengahkan beberapa amal dan kegiatan yang hendaknya dilaksanakan pada hari-hari penuh berkah ini, mengajak orang lain melaksanakannya, sehingga cakupan keta’atan meluas dan manusia menghadap kepada Allah pada hari-hari penuh berkah ini. Dengan demikian, rahmat Allah akan turun kepada kami, kepada negeri dan rakyat kami: Pertama, mempersiapkan diri untuk menjemputnya.  Menghadirkan niat baik untuk bersungguh-sungguh melaksanakan keta’atan pada waktu tersebut. Sebelum itu, hendaknya kembali mendekat kepada Allah dengan taubatan nashuha dan mensucikan hati. Kedua, berusaha untuk shalat berjama’ah tepat waktu di masjid pada hari-hari ini. Berusaha dengan semangat menemui takbiratul ihram Imam artinya tidak terlambat takbiratul ihram imam, kemudian menjaga shalat sunnah qabliyah dan bakdiyah 12 rakaat. عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه عَنْ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم: “مَا تَوَطَّنَ رَجُلٌ مُسْلِمٌ الْمَسَاجِدَ لِلصَّلاَةِ وَالذِّكْرِ إِلاَّ تَبَشْبَشَ اللَّهُ لَهُ كَمَا يَتَبَشْبَشُ أَهْلُ الْغَائِبِ بِغَائِبِهِمْ إِذَا قَدِمَ عَلَيْهِمْ” رواه ابن ماجه. Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw.: “Tidaklah seorang muslim berangkat ke masjid untuk shalat dan dzikir, kecuali Allah akan merindukannya sebagaimana kerinduan orang yang lama tidak berjumpa kemudian ia kembali menemuinya.”  HR. Ibnu Majah Ketiga, menjaga shalat nawafil harian, terutama shalat Dhuha, Witir dan Qiyamullail. Dalam hadits Qudsi Allah berfirman:  “مَن عادى لي وليًّا فقد آذنتُه بالحرب، وما تَقَرَّبَ إليَّ عبدي بشيء أَحبَّ إليَّ مما افترضتُهُ عليه، وما يزال عبدي يَتَقَرَّبُ إليَّ بالنوافل حتى أُحِبَّه؛ فإذا أحببتُه كنتُ سَمْعَه الذي يَسمعُ به، وبَصَرَهُ الذي يُبصِرُ به، ويَدَهُ التي يَبطِشُ بها، ورِجْلَه التي يَمشِي بها، وإنْ سألني لأُعطِيَنَّه، ولئن استعاذ بي لأُعيذنَّه…“ “Siapa yang memusuhi kekasih-Ku, maka Aku menyatakan perang kepadanya. Dan tiada mendekat kepada-Ku seorang hamba-Ku dengan sesuatu yang lebih Ku sukai daripada menjalankan kewajibannya, dan hamba-Ku senantiasa mendekat kepada-Ku dengan melakukan sunnat-sunnat, sehingga Ku sukai. Maka apabila Aku telah kasih padanya, Akulah yang menjadi pendengarannya dan penglihatannya, dan sebagai tangan yang digunakannya dan kaki yang dijalankannya, dan apabila ia memohon kepada-Ku pasti Ku-kabulkan, dan jika berlindung kepada-Ku pasti kulindungi.” HR Bukhari Keempat, khotmul Qur’an dengan membacanya minimal satu kali pada 10 hari Dzulhijjah, artinya satu hari tiga juz. Kelima, shiyam pada hari-hari tersebut sesuai kemampuan kita, minimal hari Senin, Kamis dan hari Arafah. Siapa yang dikehendaki Allah shaum semuanya dengan sungguh-sungguh, maka pahalanya menjadi kewajiban bagi Allah atasnya, dan itu merupakan keutamaan dari Allah yang diberikan kepadanya. Keenam, berupaya untuk senantiasa berdzikir dan berdoa pada hari-hari ini, terutama dzikir pagi dan petang, berusaha dzikir kondisi tertentu, do’a khutmul Qur’an, dzikir mutlak (minimal 1000 perhari) seperti istighfar, tasbih, tahmid, tahlil, takbir dan memperbanyak shalawat atas nabi saw. Ketujuh, hendaknya setiap muslim dan muslimah yang tidak berhaji menghadirkan kewajiban haji di hatinya, merasakan manasik haji dan syi’ar-syi’ar lainnya seakan-akan ia bersama mereka. Merasakan makna pengorbanan,  pengabdian dan keta’atan. Kedelapan, semangat dalam berdo’a pada hari-hari ini, dengan memperhatikan waktu-waktu mustajab setelah shalat, ketika sujud, ketika ifthor, sahur. Jangan lupakan do’a untuk kemenangan dan kemajuan umat Islam keseluruhan, terutama saudara-saudara kita di Suriah, Palestina, Burma dan negara-negara minoritas Muslim agar kezhaliman diangkat dari mereka dan dijauhkan dari bencana. Kesembilan, infaq fi sabilillah, terutama sadaqah rahasia, karenanya bisa memadamkan kemarahan Tuhan. Hendaknya setiap kita menyiapkan dana untuk dikeluarkan dalam rangka kebaikan. Kesepuluh, berusaha untuk ibadah di Masjid, yaitu berdiam diri antara waktu fajar sampai matahari terbit, minimal dua kali pada hari-hari ini. Rasul bersabda: “من صلى الغداة في جماعة ثم قعد يذكر الله حتى تطلع الشمس ثم صلى ركعتين كانت له كأجر حجة وعمرة تامة تامة تامة” (رواه الترمذي وصححه الألباني). “Siapa yang shalat shubuh berjamaah kemudian duduk mengingat Allah hingga matahari terbit kemudian shalat sebanyak dua rakaat, maka untuknya pahala sebagaimana pahala haji dan umrah yang sempurna, sempurna dan sempurna” HR. Tirmidzi Kesebelas, menghidupkan sunnah berkorban, berazam untuk melaksanakannya dikarenakan fadhilah dan pahala yang besar. Rasulullah saw. bersabda: “ما عمل ابن آدم يوم النحر أحب إلى الله من إهراق الدم، وإنه ليؤتى يوم القيامة بقرونها وأشعارها وأظلافها، وإن الدم ليقع من الله بمكان قبل أن يقع بالأرض، فطيبوا بها نفسًا” رواه الترمذي وابن ماجه وصححه الألباني. “Tidak ada amal yang dilakukan oleh anak Adam lebih disukai oleh Allah di hari korban selain dari mengalirkan darah (menyembelih qurban). Sesungguhnya korbannya itu di hari kiamat akan datang menyertai bani Adam dengan tanduk-tanduknya, bulunya dan kuku-kukunya. Dan darah qurban tersebut akan menetes di suatu tempat (yang diridlai) Allah sebelum menetes ke bumi, maka relakanlah korban itu.” HR.Tirmidzi Keduabelas, hendaknya seorang muslim menganjurkan keluarganya; istri dan anak-anaknya untuk menyambut jamuan Allah swt ini, membantu mereka untuk melaksanakan kebaikan dan keta’atan pada hari-hari ini, sehingga Rabbaniyah hidup di rumah kita. Dan hendaknya setiap muslim berusaha melaksanakan taujihat dan pesan-pesan ini di lingkungannya bersama teman-temannya, dengan tetangganya dan menganjurkan mereka melaksanakannya, karena: “Siapa yang menunjukan kebaikan baginya pahala persis seperti orang yang melakukannya” sehingga manfaatnya meluas dan suasana keta’atan melingkupi semua umat Islam. Dengan demikian kita telah menghidupkan Makna Rabbaniyah pada diri kita, keluarga kita, masyarakat kita dan umat Islam. “Ya Allah, karuniakan kepada kami keikhlasan dalam perkataan dan perbuatan, saat sendiri atau dalam keramaian. Karuniakan kepada kami perkataan baik dan benar saat ridha atau ketika marah. Ya Allah, jadikan kami orang-orang yang menikmati jamuan-Mu di hari-hari yang baik ini. Dan do’a akhir kami bahwa segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.” [io] Rujukan: http://al-ikhwan.net/risalah-nukhbawiyah/rabbaniyah-di-10-hari-bulan-dzulhijjah

Tuesday, June 26, 2012

Tsawabit imaniyah dalam amal Islami siri 10


10. Prinsip iman yang seterusnya ialah mendamaikan dua orang yang berselisih. Perselisihan boleh berlaku dalam kalangan duat di dalam dakwah. Imam Al Banna menulis mengenai perkara ini di dalam Risalah At Ta’alim. Apa yang dibincang di dalam perjumpaan kita ini bukanlah sekadar untuk mendapat ilmu semata-mata, atau dihafal, akan tetapi ia perlu menjadi sesuatu yang perlu dilaksanakan dalam hidup.

Tuesday, April 10, 2012

Tsawabit imaniyah dalam amal Islami siri 9

Assalamu'alaikum wbth,

Recap:

9. bersyukur kepada Allah SWT di atas segala nikmat dan berterima kasih kepada orang yang telah berlaku baik kepada kita.
8. Tidak balas dendam.
7. Tawaduk(humbleness)
6. mengetahui hakikat kejahilan(jahiliyah) agar kita dapat elakkan diri darinya.
5. Menjadi masul itu adalah amanah (al ‘imaarah amanah)
4. segala nikmat adalah anugerah Allah SWT
3. Tajarrud dan Zahid
2. Perlu memanfaatkan masa, kesihatan dan kebebasan
1. Sentiasa meletakkan akhirat di dalam kehidupan kita.


Prinsip yang seterusnya ialah bersyukur kepada Allah SWT di atas segala nikmat dan berterima kasih kepada orang yang telah berlaku baik kepada kita.

Prinsip ini memberi kesan yang besar kepada gerakerja kita di dalam organisasi. Contoh yang tinggi bagi kita di dalam ini ini ialah peribadi Ar Rasul SAW.

Ar Rasul SAW bersabda
افلا اكو نوا عبد ا شكو را

Ertinya:
Tidak bolehkah aku menjadi hamba yang bersyukur ?

Ar Rasul SAW tetap melakukan ibadah yang banyak walaupun baginda mengetahui yang semua dosanya telahpun diampunkan oleh Allah SWT, namun baginda tetap terus menerus bersyukur kepada Allah SWT.
Sentiasa bersyukur kepada Allah SWT adalah perkara yang ada hubung kait dengan keimanan kita kepada Allah SWT.
Kesyukuran kita yang seterusnya ialah sentiasa berterima kasih kepada manusia yang telah menolong kita. Perkara ini tidak kurang pentingnya juga. Misalnya apabila seseorang telah menolong anda, sekurang-kurangnya kita perlu mendoakannnya. Apabila seseorang melakukan kesalahan, pada kebiasaannya kita akan memberitahunya yang dia melakukan kesalahan. Mengapa pula apabila seseorang itu membuat kebaikan, kita tidak menghargainya, berdoa kepadanya dan memberitahunya?

Wednesday, March 21, 2012

Tsawabit imaniyah dalam amal Islami siri 8

8. Prinsip yang seterusnya ialah tidak balas dendam.

Sifat yang perlu ada pada kita ialah sifat suka memaafkan. Jika ada sifat ini dalam diri kita. Allah SWT akan sentiasa melindungi kita.

Firman Allah SWT di dalam surah Al Hajj ayat 38.

Ertinya:
Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang telah beriman. Sesungguhnya Allah tidak menyukai tiap-tiap orang yang berkhianat lagi mengingkari nikmat.

Ada sebuah kisah pertengkaran yang berlaku antara Saidina Abu Bakar ra. dengan seorang sahabat yang lain. Pada masa itu Ar Rasul SAW ada bersama beliau. Sahabat tadi bertelingkah dengan Abu bakar ra. dan mengeluarkan kata-kata yang bermacam-macam kepadanya. Abu Bakar ra. hanya mendengar, dan tidak menjawab apa-apa. Apabila sahabat tadi selesai berhujah, Abu Bakar ra. pun mula cuba untuk menjawab segala tuduhan yang diperkatakan ke atasnya. Ar Rasul SAW menunjukkan reaksi kurang senang dan bagindapun terus beredar. Abu Bakar ra menyedari perkara tersebut dan ia pun cepat-cepat pergi mendapatkan Ar Rasul SAW dan cuba mendapat penjelasan. Nabi SAW memberitahu, semasa kamu berdiam diri, tidak berkata apa-apapun terhadap tuduhan terhadap kamu, para malaikat tidak henti-henti menyebelahi kamu. Namun apabila kamu mula mempertahankan diri kamu dan berhujah, tiba-tiba syaithan pun muncul. Oleh sebab itulah saya cepat-cepat beredar dari situ.

Friday, March 9, 2012

Kepada para Pemuda 2

رسالة أيها الشباب
للامام البنا


ومن هنا كثرت واجباتكم، ومن هنا عظمت تبعاتكم، ومن هنا تضاعفت حقوق أمتكم عليكم، ومن هنا ثقلت الأمانة في أعناقكم. ومن هنا وجب عليكم أن تفكروا طويلا، وأن تعملوا كثيرآ، وأن تحددوا موقفكم، وأن تتقدموا للإنقاذ، وأن تعطوا الأمة حقها كاملا من هذا الشباب.

قد ينشأ الشاب في أمة وادعة هادئة، قوي سلطانها واستبحر عمرانها، فينصرف الى نفسه اكثر مما ينصرف إلى أمته، ويلهو ويعبث وهوهادىء النفس مرتاح الضمير.

وقد ينشأ في أمة جاهدة عاملة قد استولى عليها غيرها، واستبد بشؤونها خصمها فهي تجاهد ما استطاعت في سبيل استرداد الحق المسلوب، والتراث المغصوب ، والحرية الضائعة والأمجاد الرفيعة، والمثل العالية. وحينئذ يكون من أوجب الواجبات على هذا الشباب ان ينصرف إلى أمته أكثر مما ينصرف إلى نفسه.

وهو إذ يفعل ذلك يفوز بالخير العاجل في ميدان النصر، و الخير الآجل من مثوبة الله. ولعل من حسن حظنا أن كنت من الفريق الثاني فتفتحت أعيننا على أمة دائبة الجهاد مستمرة الكفاح في سبيل الحق والحرية.

واستعدوا يا رجال فما أقرب النصرللمؤمنين وما أعظم النجاح للعاملين الدائبين.

Dengan kesimpulan inilah maka kamu, angkatan pemuda akan menghadapi kewajipan yang bertambah banyak, tugas yang semakin besar, tuntutan-tuntutan umat yang kian berlipatganda; malah dari sinilah maka amanah yang dipikulkan ke atas bahu kamu itu akan menjadi bertambahberat. Oleh itu sepatutnya kamu berfikir panjang, bekerja keras, bahkan mestilah kamu menentukan sikap untuk tampil ke hadapan demi menyelamatkan umat serta menunaikan hak-hak umat dengan sempurna.

Ada pemuda yang lahir serta membesar di tengah-tengah umat yang keadaannya tenang lenang kerana kekuasaannya sudah kukuh dan kemakmuran hidupnya cukup mewah. Maka ia pun lebih banyak menumpukan tenaga untuk dirinya sendiri dari kepentingan umatnya, malah mungkin dia bermain-main dan berfoya dengan senang hati dan tidak berfikir apa-apa.

Di samping itu ada pula pemuda yang lahir membesar di tengah-tengah umat yang terpaksa berjuang dan bertindak kerana mereka dijajah dan dikuasai oleh musuh; oleh itu umat tersebut terpaksa berjuang sedaya upaya untuk mengembalikan hak mereka yang dirampas, harta kekayaan yang disamun. Begitu juga segala kebebasan juga telah hilang. Pada ketika itulah kewajipan utama lagi pertama bagi pemuda tersebut supaya menumpukan segala perhatian demi untuk kepentingan umat lebih banyak dari faedah dirinya sendiri.

Ketika bertindak sedemikian itu, pemuda tersebut akan memperolehi kemenangan dan pelbagai kebaikan serta mencapai ganjaran dari Allah dalam bentuk kebajikan dan pahala di akhirat kelak.

Kita, Angkatan Pemuda Islam ini, bertuah sebab kita termasuk ke dalam golongan yang kedua hingga terbukalah mata kita melihat umat yang terus menerus berjuang serta bertungkus lumus demi kebenaran dan kebebasan. Oleh itu, bersedialah wahai angkatan kesatria, alangkah hampirnya kemenangan itu untuk orang-orang yang beriman, dan alangkah besarnya kejayaan yang akan dicapai oleh angkatan yang terus menerus bekerja dan bertindak.

Tsawabit imaniyah dalam amal Islami siri 7

7. Prinsip yang keenam ialah Tawaduk(humbleness)

Di sana sini, kebanyakan mereka yang kita jumpa di luar sana memiliki sekurang-kurangnya mempunyai ijazah, sarjana dan ke atas. Adakah ini merupakan kriteria bagi kita menilai seseorang? Jika kriteria inilah yang kita gunakan, kita akan berdepan dengan masalah yang besar. Jika kita letakkan status ijazah dalam neraca penilaian kita, bermakna kita telah hilang salah satu daripada prinsip keimanan kita.

Peringatan ini amat penting bagi kita yang datang belajar dan tinggal di sini. Hal ini tidaklah boleh kita jadikan sebagai kriteria pemilihan sahabat kita di dalam dakwah kita.

Seorang ahli zuhud, Muhammad bin Abdul Malik telah berkata:
Nama, ijazah, dan gelaran membuatkan amalan seseorang menjadi adalah fatamorgana (mirage).
Seseorang itu yakin yang dirinya lebih baik dari semua orang lain, hakikatnya ia tidak pun memiliki semua itu. Orang seperti ini hidupnya hanya mengejar gelaran. Dia akan gembira apabila dipanggil dengan gelaran tertentu seperti tuan, sayyid, Dr. atau sebagainya. Hal ini menyebabkan hatinya rasa tenang dan gembira.

Akan tetapi jiwa yang di dalamnya dipenuhi dengan iman tidak sekali-kali tertipu dengan gelaran-gelaran ini. Kita perlu mengingatkan kepada sahabat kita agar tidak tertipu dengan perkara ini dan menggunakannya sebagai kriteria. Kriteria kita, mestilah sejauh mana ilmu Al Qurannya, sejauh mana ilmu hadith yang diketahuinya, ilmu fiqh. Nilai ijazah dan gelaran janganlah dijadikan sebagai kriteria kita.

Thursday, March 1, 2012

Tsawabit imaniyah dalam amal Islami siri 6

Recap:
5 Menjadi masul itu adalah amanah (al ‘imaarah amanah)
4 segala nikmat adalah anugerah Allah SWT
3 Tajarrud dan Zahid
2 Perlu memanfaatkan masa, kesihatan dan kebebasan
1 Sentiasa meletakkan akhirat di dalam kehidupan kita.

6. Prinsip yang seterusnya ialah kita perlu mengetahui hakikat kejahilan(jahiliyah) agar kita dapat elakkan diri darinya.

Satu hari, sahabat Rasul SAW bertanyakan mengenai syar (keburukan). Mereka mahu mengetahui kerana mahu menjauhinya.

Ada seorang ahli zahid berkata:

Salah satu daripada dosa besar ialah kejahilan dalam kejahilan. Justeru itu mengetahui hakikat jahiliyah adalah sebahagian daripada prinsip keimanan kita.

Kepada para Pemuda 1

رسالة أيها الشباب
للامام البنا
أيها الشباب:
إنما تنجح الفكرة إذا قوي الايمان بها، وتوفر الإخلاص في سبيلها، وازدادت الحماسة لها، ووجد الاستعداد الذي يحمل على التضحية والعمل لتحقيقها. وتكاد تكون هذه الأركان الأربعة: الايمان، والإخلاص، والحماسة، والعمل من خصائص الشباب. لان أساس الايمان القلب الذكي، وأساس الاخلاص الفؤاد النقي، وأساس الحماسة الشعور القوي، وأساس العمل العزم الفتي، وهذه كلها لا تكون إلا للشباب. ومن هنا كان الشباب قديمآ و حديثأ في كل أمة عماد نهضتها، وفي كل نهضة سر قوتها، وفي كل فكرة حامل رايتها "إنهم فتية آمنوا بربهم وزدناهم هدى " الكهف.

Wahai Pemuda!

Sesungguhnya sesuatu fikrah itu hanya boleh berjaya bila mana terdapat pengikut-pengikut yang yakin penuh dengan ajarannya, yang benar-benar ikhlas dalam usaha menegakkannya, yang mempunyai semangat yang berkobar untuk mempertahankan kewujudannya, dan di samping itu ada kesediaan yang mendorong mereka ke arah berkorban serta terus bertindak menjayakannya. Keempat-empat rukun tersebut; keyakinan, kejujuran, semangat dan tindakan adalah merupakan ciri-ciri utama pemuda.

Kesimpulan ini ialah kerana asas keimanan itu ialah hati yang cerdik; asas keikhlasan ialah sanubari yang jernih dan bersih, dan asas semangat insan ialah perasaan yang segar mekar; manakala asas bagi setiap tindakan pula ialah keazaman yang gagah lagi tabah.

Itulah sebabnya maka angkatan pemuda, sejak dahulu hingga sekarang, tetap merupakan tiang pasak bagi kebangkitan sesuatu umat. Mereka merupakan rahsia kekuatan mana-mana kebangkitan; malahan angkatan pemuda jugalah yang menjadi barisan penjulang panji-panji bagi sesuatu fikrah perjuangan.

Allah berfirman;
"Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman dengan Tuhan mereka; dan Kami tambahkan petunjuk kepada mereka."(Kahfi:13)

Thursday, February 23, 2012

Tsawabit imaniyah dalam amal Islami siri 5

Prinsip yang seterusnya ialah menjadi masul itu adalah amanah (al ‘imaarah amanah)

Kita mestilah menjadi seorang yang amanah. Bagi sesiapa sahaja yang menerima masuliyyah dakwah ini, ia perlu sentiasa bertanya kepada dirinya;
i.Bagaimana seseorang itu dapat menjawab di hadapan Allah SWT terhadap apa yang dipertanggungjawabkan ke atasnya.
ii.Apa yang telah ia lakukan?, apa kelemahan yang ada?,
iii.Adakah ia lakukan tanggung jawab itu dengan betul?

Semua soalan ini perlu difikirkan jawapannya.

Oleh kerana itulah, apabila hakikat ini difahami. Jika sekiranya kita terpilih bagi sesuatu masuliyyah, kita perlu sentiasa memohon kepada Allah SWT agar sentiasa membantu kita dalam melaksanakan amanah yang diberikan tadi.

Ar Rasul SAW bersabda:

ا ذ علية الا ما نة فا نتظروالسا عة

Apabila amanah diberi kepada orang yang tidak melaksanakannya, maka tunggulah satu berlakunya kiamat (kehancuran)

Para sahabat bertanya, bagaimanakah perkara ini boleh berlaku wahai Rasulullah?

Ar Rasul SAW menjawab:
Apabila amanah ini dipikul oleh orang yang tidak layak. Ini merupakan antara tanda-tanda akan berlakunya kiamat.

Saturday, February 18, 2012

KISAH KHALIFAH ADIL UMAR ALKHATTAB MEMBUKA KOTA AL QUDS

Peperangan Yarmouk adalah pertempuran yang berlaku antara tentera Islam dan tentera Rom Byzantine di Jordan. Ketika itu, 41’000 tentera Islam yang dipimpin oleh Khalid al Walid, berjaya menewaskan 70’000 battalion Rom yang terkenal dengan kelengkapan artileri. Kekalahan tentera Rom di Yarmouk menjadikan peluang penguasaan umat Islam terhadap Baitul Maqdis terbuka luas. Rom ingin menamatkan penguasaan mereka di Timur Tengah dengan menyerahkan Kota al Quds. Bagaimanapun, Patriarch Sophronius seorang protagonis uskup yang mempertahan Jerusalem, enggan menyerahkan Baitul Maqdis kepada umat Islam dengan pertumpahan darah.

Sophronius memberikan syarat supaya Khalifah Islam iaitu Umar ibn al Khattab sendiri yang hadir menemui penduduk Iliya’ (Iliya’, nama Jerusalem ketika itu) dengan jaminan keselamatan.

Pada sangkaan Sophronius, umat Islam akan menolak syarat tersebut dan melakukan penjarahan terhadap Kota al Quds sebagaimana empayar-empayar yang pernah wujud sebelum Islam seperti Parsi dan Rom. Ternyata jangkaan mereka silap.

Abu Ubaidah bin Jarrah yang ketika itu sudah mengepung Jerusalem, dengan sikap toleransi memenuhi permintaan Sophronius dan rakyat Iliya’. Beliau menerima syarat tersebut dan menjemput Khalifah Umar al Khattab menuju ke Kota Jerusalem.

Sebelum Khalifah Umar berangkat menuju ke Jerusalem, Umar telah bermusyawarah bersama Para Sahabatnya tentang permintaan Sophronius. Uthman ibn Affan radhiAllahu anhu mencegah Khalifah Umar dari menuruti kehendak uskup tersebut, tetapi Saidina Ali memberikan cadangan lain yang kemudiannya diterima oleh Umar; Iaitu melakukan rapat umum bersama rakyat Iliya’ kerana Jerusalem juga merupakan salah satu bandar suci bagi kepercayaan umat Islam selain Yahudi dan Nasrani.

Di sinilah hikayat kisah agung pembukaan Kota al Quds yang dilakukan Khalifah Umar al Khattab. Khalifah Islam ke-2 yang pernah mendapat gelaran al Faruq ini, dipuji Baginda salallahualaihi wasalam sebagaimana sabdanya yang bermaksud,"Sesungguhnya Allah Taala menempatkan kebenaran pada ucapan Umar dan hatinya".

Khalifah Umar al Khattab tidak pergi ke Baitul Maqdis dengan ketumbukan tentera, bukan juga dengan pakaian yang mewah-mewah dan kehebatan kerajaannya. Tetapi beliau datang dengan hanya menaiki seekor unta, dan ditemani oleh seorang P.A (personal assistant) / khadamnya sahaja. Perjalanan Umar dan khadamnya dari Madinah ke Kota al Quds, hanya cukup berbekalkan air, roti dan kurma.

Menurut riwayat, Umar dan khadamnya bergilir-gilir menaiki unta. Jika Umar menaiki unta, maka khadamnya pula akan berjalan sambil memandu pedati unta tersebut. Manakala jika khadamnya yang naik unta, Umar pula yang akan berjalan memandu pedati untanya. Setiap kali giliran dilakukan, mereka akan membaca surah Yassin sehingga tamat. Itulah yang dilakukan oleh Umar dan khadamnya sehingga sampai ke Kota al Quds.

Sebelum sampai ke Kota al Quds, Umar telah melalui khemah tentera-tentera Islam yang dipimpin oleh Abu Ubaidah bin Jarrah di Jabiya. Abu Ubaidah bin Jarrah merupakan salah seorang Sahabat Nabi yang termasuk dalam senarai 10 orang yang dijanjikan syurga. Turut bersama Abu Ubaidah ketika itu ialah Khalid bin al Walid.

Apabila tentera-tentera Islam menyedari kedatangan Umar al Khattab, mereka menyambutnya dengan penuh penghormatan. Ketika itu Umar yang memimpin pedati unta yang dinaiki oleh khadamnya. Berkali-kali khadamnya meminta agar Umar berada di atas unta sebelum sampai ke perkhemahan tentera, tetapi hal itu ditolak oleh Umar kerana kerendahan hati dan ketinggian budinya.

Apabila Abu Ubaidah melihat kaki Khalifah Umar sudah berceloreng dengan debu-debu tanah dan luka kerana perjalanan yang jauh, Abu Ubaidah dengan niat yang baik memberi cadangan kepada Umar untuk mengapitnya sehingga ke pintu Kota al Quds.

“Wahai Amiral Mukminin, jika kamu memerintah agar kami memapah dan memandu perjalananmu nescaya kami akan lakukan. Mereka (penduduk al Quds) tentu melihat kemegahan kamu sebagai Khalifah”

Tiba-tiba Umar al Khattab merenung Abu Ubaidah, salah seorang panglima Islam yang menewaskan tentera-tentera Rom Byzantine itu dengan wajah yang sangat murka atas apa yang diucapnya. Lalu terbitlah kata-kata Umar yang mahsyur kepada Abu Ubaidah,"Demi Allah. Jika bukan engkau yang mengucapkannya wahai Abu Ubaidah nescaya aku menghukummu sebagai pengajaran buat umat ini! Sesungguhnya kita semua ini adalah hina lalu kita dimuliakan Allah dengan Islam, sekiranya kita mencari kemuliaan selain Islam sudah tentu kita akan dihina oleh Allah".

Saidina Umar menolak cadangan Abu Ubaidah dan tidak memanjangkan dialog bersamanya. Umar bersama khadamnya terus berlalu pergi meninggalkan perkhemahan tentera Islam di Jabiya.

Mereka masih bergilir-gilir menaiki unta sambil menghabiskan bacaan surah Yassin. Apabila Kota al Quds semakin dekat, khadamnya memesan agar Umar terus kekal menaiki unta, sementara dia yang akan memegang pedati unta yang dinaiki Umar. Tetapi Umar tegas melarang dan mengarahkan pembantunya agar terus mengikut tempoh gantian yang ditetapkan. Kebetulan, apabila jarak mereka berdua hampir tiba ke gerbang Kota al Quds, waktu itu giliran Umar memegang tali pedati unta tersebut.

Kerumunan tentera-tentera Rom dan rakyat al Quds beragama Nasrani memenuhi Jerusalem. Mata mereka tertumpu kepada seorang pemimpin yang tidak pernah mereka lihat sepanjang sejarah peradaban dunia. Lazimnya penguasa-penguasa Rom akan membawa bala tentera dan sejumlah kebanggaan di raja seperti emas, mahkota, permaisuri, gundik-gundik dan sebagainya. Tetapi Umar sebagai khalifah, pemimpin terunggul yang berjaya menundukkan keangkuhan Rom, datang dengan baju kasar yang kurang kualitinya, lusuh dan berdebu, manakala kedua-dua kakinya berlumpur.

Umar berhenti apabila menjejaki gerbang Dimashq, salah satu pintu masuk ke Jerusalem. Kemudian terus berjalan meninggalkan unta dan khadamnya di situ, dengan penuh kehambaan kepada Allah Taala wajahnya bersemarak sinar keizzahan Islam.

Pembesar-pembesar Kristian terpegun melihat ketibaan Umar radhiAllahu anhu. Mereka semua mengandaikan Umar akan tiba dengan satu rombongan yang besar, sehebat reputasi dan namanya. Mereka terpedaya dengan sangkaan-sangkaan buruk mengenai Umar, sebaliknya Khalifah Umar hanya ditemani oleh seorang khadam setibanya di Jerusalem. Lebih mengharukan, mereka melihat Khalifah Umar yang menarik tali pedati yang ditunggang khadamnya. Mereka merasakan perbezaan yang jelas antara peribadi Khalifah Umar dengan semua Raja Kaisar yang pernah menakluk Jerusalem sebelum ini.

Seluruh rakyat Iliya’ dan pembesar-pembesar di Jerusalem memberikan penghormatan kepada Umar sambil menundukkan kepala. Kemudian Umar berteriak keras.

"Alangkah malangnya kamu semua! Angkat kepala kalian sesungguhnya kamu tidak perlu menundukkan kepala (sujud) seperti ini kecuali kepada Allah".

Patriarch Sophronius bersama uskup-uskup lain memakai pakaian yang mewah-mewah bergemerlapan, sedangkan orang yang ingin diberikan penghormatan hanya memakai pakaian seperti rakyat biasa. Sophronius malu melihat penampilah Khalifah sungguh sederhana, dalam hatinya berkata,”Jika beginilah pemimpin Islam, sesungguhnya kerajaan kamu (Umar) tidak akan tewas”.

Saat Sophronius teruja dan menitiskan air mata melihat kesederhanaan Umar, dia termanggu apabila teringat tanda-tanda pemilik sebenar Kota al Quds sebagaimana yang disebut di dalam Injil. Sophronius mara bertemu Umar sambil di tangannya memegang kunci Kota al Quds. Kemudian Sophronius berkata kepada Umar.

“Sesungguhnya orang yang akan aku serahkan kunci kota al Quds, seterusnya menguasai Baitul Maqdis memiliki tiga tanda. Petanda-petanda tersebut jelas disebutkan di dalam kitab Injil kami.

“Pertama, orang itu akan berjalan manakala khadamnya menunggang kenderaan miliknya. Kedua, orang itu datang dalam keadaan kedua-dua kakinya diselaputi debu-debu tanah (lumpur). Ketiga, orang itu datang dalam keadaan bajunya penuh dengan tampalan.

Setelah Sophronius melihat tanda-tanda tersebut ada pada Khalifah Umar al Khattab, kemudian dia meminta izin kepada Umar untuk mengira berapakah tampalan yang ada pada baju yang dipakainya. Ada 17 jahitan yang menampal pada baju Umar, dengan perasaan penuh debaran dan ta’ajub Sophronius berkata,"Inilah tanda yang ketiga, ya Tuhan. Tidak diberikan kunci-kunci Kota al Quds ini kecuali kepada seorang pemimpin yang memiliki tiga tanda keagungan di mana tanda-tanda inilah yang paling unggul dalam lembaran sejarah dan tidak ternilai harganya (seperti yang disebut di dalam Injil), (1) Khadamnya yang menunggang kenderaan. (2) Calitan debu-debu tanah. dan (3) Tampalan pada baju".

Menurut Sophronius, tanda-tanda ini menunjukkan bahawa kerajaan yang diperintah oleh Umar adalah kerajaan yang akan relevan sepanjang zaman, tidak akan musnah ditelan peredaran. Kemudian dia menambah lagi,"Aku tidak sedih (memberikan kunci kepada Umar) kerana kalian masuk ke kota ini sebagai orang yang memiliki kriteria tersebut (dalam Injil kami sebagai pembuka Kota Jerusalem), (aku tidak gelisah) kamu menakluki perbendaharaan dunia ini sedang kami dalam kawalan kalian. Kamu tentu menguasai kota ini selamanya dengan aqidah Islam, pentadbiran Islam dan juga akhlak Islam".

Khalifah Umar menerima penyerahan kunci kota suci itu secara rasmi dari Sophronius. Kemudian Umar mengikat jaminan keamanan penganut Kristian yang akan tetap tinggal di Jerusalem (penduduk Iliya’).
"Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah Lagi Maha penyayang; inilah apa yang telah diberikan hamba Allah Umar, Amirul Mukminin keamanan kepada penduduk Iliya'. Dia (Allah) telah memberikan keamanan untuk diri mereka, harta benda mereka, gereja-gereja mereka dan rumah-rumah ibadah mereka samaada yang elok atau rosak dan kepada seluruh penganut bahawa tidak sekali-kali gereja-gereja mereka dihuni (rampas) dan tidak sekali-kali dimusnahkan dan sekali-kali dilakukan kekerasan terhadap mereka samaada pada tubuh badan atau harta benda. Dan mereka sekali-kali tidak dipaksa untuk meninggalkan agama mereka dan tidak sekali orang Yahudi menghuni bersama mereka di Iliya'".

"Menjadi kewajipan ke atas penduduk Iliya' untuk membayar jizyah sebagaimana ahli agama lai membayarnya. Menjadi kemestian ke atas mereka untuk mengeluarkan oran Rom dan perompak, maka sesiapa dari kalngan mereka yang keluar maka dia dan hartanya selamat sehinggalah dia sampai ke tempat perlindungannya. Dan sesiapa dari kalangan mereka mahu kekal maka dia selamat tetapi mestilah dia membayar jizyah sebagaimana yang dilakukan oleh penduduk Iliya'".

"Sesiapa dari kalangan penduduk Iliya' yang mahu pergi dengan hartanya bersama-sama orang Rom maka mereka selamat sehinggalah mereka sampai ke tempat perlindungan. Sesiapa dari kalangan penduduk bumi ini yang mahu kekal maka hendaklah dia membayar jizyah sebagaimana penduduk Iliya' dan sesiapa yang mahu berada di bawah Rom dan sesiapa yang mahu kembali kepada keluarganya tidak diambil daripada mereka sesuatu pun sehinggalah mereka menuai tanaman mereka. Sesungguhnya apa yang ada di atas tulisan ini adalah janji yang bertunjang kepada Allah, Rasul dan para Khulafa' dan orang-orang Mukmin jika mereka membayar jizyah yang diwajibkan ke atas mereka".

Inilah sebahagian dari jaminan hak dan keselamatan umat Islam kepada rakyat Iliya’. Rakyat Iliya’ diwajibkan membayar jizyah, manakala yang telah memeluk Islam wajib membayar zakat. Kota al Quds kemudiannya menjadi tanggungjawab umat Islam dan rakyat Iliya’ untuk memeliharanya daripada ancaman dan pencerobohan musuh. Perjanjian antara penganut Kristian dan masyarakat Islam ini dinamakan sebagai ‘Wathiqah Umariyyah’ (The Umariyyah Covenant).

Setelah selesai upacara menandatangani perjanjian perdamaian, Khalifah Umar berangkat menuju ke Baitul Maqdis, salah satu tempat yang menjadi wasiat Baginda salallahualaihi wasalam kepada umat Islam agar menziarahinya. Sehinggalah tiba waktu solat, Sophronius mempelawa Saidina Umar melaksanakannya di Holy Sepulchure / Gereja al Qiamah (tempat maqam suci Jesus yang didakwa oleh penganut Kristian). Tetapi ajakan itu ditolak kerana Umar khuatir perbuatan tersebut akan menjadi hujjah generasi Islam selepasnya untuk mengubah gereja menjadi masjid.

Saidina Umar kemudian meninjau sekitar kawasan Gereja al Qiamah dan berjalan sepanjang 500 meter menuju ke selatan, lalu beliau melakukan solat di tempat perhentiannya. Kawasan tersebut kini dikenali dengan nama Masjid Umar dan pernah dibakar oleh Yahudi dalam pada 21 Ogos 1969.

Genap 10 hari Saidina Umar bersama tentera-tentera Islam yang kemudiannya masuk ke Kota al Quds dengan aman. Kejayaan tersebut diraikan dengan menunaikan qiyam dan doa kesyukuran kepada Allah Taala. Sewaktu berdoa, Umar tiba-tiba menangis. Lalu salah seorang bertanya kepada Umar,”Wahai Umar adakah kamu menangis kerana kemenangan ini?”

“Iya, aku menangisi kemenangan ini. Aku teringat Baginda salallahualaihi wasalam pernah bersabda…”

MAKSUDNYA : "Demi Allah, bukanlah kemiskinan yang aku khuatirkan terhadap diri kalian. Tetapi yang aku khuatirkan adalah kesenangan dunia yang dibentangkan pada diri kalian semua sebagaimana yang diperolehi oleh orang-orang sebelum kalian. Lalu kamu semua saling pintas-memintas untuk mendapatkannya sebagaimana mereka, sehinggalah harta tersebut membinasakan kalian seperti mereka dibinasakan (kerana kelalaian terhadap dunia)".

Setelah itu, Umar kembali bersama khadamnya menuju Madinah. Datang dan perginya Khalifah Umar, hanya berperawakan seperti musafir biasa dan rakyat jelata. - TARBAWI

Rujukan:

http://www.tarbawi.my/index.php/majalah-tarbawi/isu-terpilih/100-kisah-khalifah-adil-umar-alkhattab-membuka-kota-al-quds

Keikhlasan Dan Menghadhirkan Niat Dalam Segala Perbuatan, Ucapan Dan Keadaan Yang Nyata Dan Yang Samar

Dari Abu Abdur Rahman, yaitu Abdullah bin Umar bin al-Khaththab radhiallahu 'anhuma, katanya: Saya mendengar Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda:
"Ada tiga orang dari golongan orang-orang sebelummu sama berangkat bepergian, sehingga terpaksalah untuk menempati sebuah gua guna bermalam, kemudian merekapun memasukinya. Tiba-tiba jatuhlah sebuah batu besar dari gunung lalu menutup gua itu atas mereka. Mereka berkata bahwasanya tidak ada yang dapat menyelamatkan engkau semua dari batu besar ini melainkan jikalau engkau semua berdoa kepada Allah Ta'ala dengan menyebutkan perbuatanmu yang baik-baik.
Seorang dari mereka itu berkata: "Ya Allah. Saya mempunyai dua orang tua yang sudah tua-tua serta lanjut usianya dan saya tidak pernah memberi minum kepada siapapun sebelum keduanya itu, baik kepada keluarga ataupun hamba sahaya. Kemudian pada suatu hari amat jauhlah saya mencari kayu - yang dimaksud daun-daunan untuk makanan ternak. Saya belum lagi pulang pada kedua orang tua itu sampai mereka tertidur. Selanjutnya sayapun terus memerah minuman untuk keduanya itu dan keduanya saya temui telah tidur. Saya enggan untuk membangunkan mereka ataupun memberikan minuman kepada seseorang sebelum keduanya, baik pada keluarga atau hamba sahaya. Seterusnya saya tetap dalam keadaan menantikan bangun mereka itu terus-menerus dan gelas itu tetap pula di tangan saya, sehingga fajarpun menyingsinglah, Anak-anak kecil sama menangis kerana kelaparan dan mereka ini ada di dekat kedua kaki saya. Selanjutnya setelah keduanya bangun lalu mereka minum minumannya. Ya Allah, jikalau saya mengerjakan yang sedemikian itu dengan niat benar-benar mengharapkan keridhaanMu, maka lapanglah kesukaran yang sedang kita hadapi dari batu besar yang menutup ini." Batu besar itu tiba- tiba membuka sedikit, tetapi mereka belum lagi dapat keluar dari gua.
Yang lain berkata: "Ya Allah, sesungguhnya saya mempunyai seorang anak paman wanita - jadi sepupu wanita - yang merupakan orang yang tercinta bagiku dari sekalian manusia - dalam sebuah riwayat disebutkan: Saya mencintainya sebagai kecintaan orang- orang lelaki yang amat sangat kepada wanita - kemudian saya menginginkan dirinya, tetapi ia menolak kehendakku itu, sehingga pada suatu tahun ia memperoleh kesukaran. lapun mendatangi tempatku, lalu saya memberikan seratus duapuluh dinar padanya dengan syarat ia suka menyendiri antara tubuhnya dan antara tubuhku -maksudnya suka dikumpuli dalam seketiduran. Ia berjanji sedemikian itu. Setelah saya dapat menguasai dirinya - dalam sebuah riwayat lain disebutkan: Setelah saya dapat duduk di antara kedua kakinya - sepupuku itu lalu berkata: "Takutlah engkau pada Allah dan jangan membuka cincin - maksudnya cincin di sini adalah kemaluan, maka maksudnya ialah jangan melenyapkan kegadisanku ini - melainkan dengan haknya - yakni dengan perkawinan yang sah -, lalu sayapun meninggalkannya, sedangkan ia adalah yang amat tercinta bagiku dari seluruh manusia dan emas yang saya berikan itu saya biarkan dimilikinya. Ya Allah, jikalau saya mengerjakan yang sedemikian dengan niat untuk mengharapkan keridhaanMu, maka lapangkanlah kesukaran yang sedang kita hadapi ini." Batu besar itu kemudian membuka lagi, hanya saja mereka masih juga belum dapat keluar dari dalamnya.
Orang yang ketiga lalu berkata: "Ya Allah, saya mengupah beberapa kaum buruh dan semuanya telah kuberikan upahnya masing-masing, kecuali seorang lelaki. Ia meninggalkan upahnya dan terus pergi. Upahnya itu saya perkembangkan sehingga ber-tambah banyaklah hartanya tadi. Sesudah beberapa waktu, pada suatu hari ia mendatangi saya, kemudian berkata: Hai hamba Allah, tunaikanlah sekarang upahku yang dulu itu. Saya berkata: Semua yang engkau lihat ini adalah berasal dari hasil upahmu itu, baik yang berupa unta, lembu dan kambing dan juga hamba sahaya. Ia berkata: Hai hamba Allah, janganlah engkau memperolok-olokkan aku. Saya menjawab: Saya tidak memperolok-olokkan engkau. Kemudian orang itupun mengambil segala yang dimilikinya. Semua digiring dan tidak seekorpun yang ditinggalkan. Ya Allah, jikalau saya mengerjakan yang sedemikian ini dengan niat mengharapkan keridhaanMu, maka lapangkanlah kita dari kesukaran yang sedang kita hadapi ini." Batu besar itu lalu membuka lagi dan merekapun keluar dari gua itu. (Muttafaq 'alaih)

Thursday, February 16, 2012

Yusuf as adalah figur dalam kesucian diri

Yusuf dan godaan Nyonya Futhifar

Yusuf hidup tenang dan tenteram di rumah Futhifar, Ketua Polis Mesir, sejak ia menginjakkan kakinya di rumah itu. Ia mendpt kepercayaan penuh dari kedua majikannya, suami-isteri, mengurus rumah-tangga mereka dan melaksanakan perintah dan segala keperluan mrk dengan sesungguh hati, ikhlas dan kejujuran, tiada menuntut upah dan balasan atas segala tenaga dan jerih payah yang dicurahkan untuk kepentingan keluarga. Ia menganggap dirinya di rumah itu bukan sebagai hamba bayaran, tetapi sebagai seorang drp anggota keluarga. demikian pula anggapan majikannya, suami-isteri terhadap dirinya.

Ketenangan hidup dan kepuasan hati yang diperdpt oleh Yusuf selama ia tinggal di rumah Futhifar, telah mempengaruhi kesihatan dan pertumbuhan tubuhnya. Ia yang telah dikurnai oleh Tuhan kesempurnaan jasmani dengan kehidupan yang senang dan empuk di rumah Futhifar, makin terlihat tambah segar wajahnya, tambah elok parasnya dan tambah tegak tubuhnya, sehingga ia merupakan seorang pemuda remaja yang gagah perkasa yang menggiurkan hati setiap wanita yang melihatnya, tidak terkecuali isteri Futhifar, majikannya sendiri, bahkan bukan tidak mungkin bahwa ia akan menjadi rebutan lelaki, andai kata ia hidup di kota Sadum di tengah-tangah kaum Nabi Luth ketika itu.

Pengaulan hari-hari di bawah satu atap rumah antara Yusuf pemuda remaja yang gagah perkasa dan Nyonya Futhifar, seorang wanita muda cantik dan ayu, tidak akan terhindar dari risiko terjadinya perbuatan maksiat, bila tidak ada kekuatan iman dan takwa yang menyekat hawa nafsu yang ammarah bissu. Demikian lah akan apa yang terjadi terhadap Yusuf dan isteri Ketua Polis Mesir.

Pada hari-hari pertama Yusuf berada di tengah-tengah keluarga , Nyonya Futhifar tidak menganggapnya dan memperlakukannya lebih dari sebagai pembantu rumah yang cekap, tangkas, giat dan jujur, berakhlak dan berbudi pekerti yang baik. Ia hanya mengagumi sifat-sifat luhurnya itu serta kecekapan dan ketangkasan kerjanya dalam menyelesaikan urusan dan tugas yang pasrahkan kepadanya. Akan tetapi memang rasa cinta itu selalu didahului oleh rasa simpati.
Simpati dan kekaguman Nyonya Futhifar terhadap cara kerja Yusuf, lama-kelamaan berubah menjadi simpati dan kekaguman terhadap bentuk banda dan paras mukanya. Gerak-geri dan tingkah laku Yusuf diperhatika dari jauh dan diliriknya dengan penuh hati-hati. Bunga api cinta yang masih kecil di dalam hati Nyonya Futhifar terhadap Yusuf makin hari makin membesar dan membara tiap kali ia melihat Yusuf berada dekatnya atau mendengar suaranya dan suara langkah kakinya. Walaupun ia berusaha memandamkan api yang membara di dadanya itu dan hedak menyekat nafsu berahi yang sedang bergelora dalam hatinya, untuk menjaga maruahnya sebagai majikan dan mepertahankan sebagai isteri Ketua Polis, namun ia tidak berupaya menguasai perasaan hati dan hawa nasfunya dengan kekuatan akalnya. Bila ia duduk seorang diri, maka terbayanglah di depan matanya akan paras Yusuf yang elok dan tubuhnya yang bagus dan tetaplah melekat bayangan itu di depan mata dan hatinya, sekalipun ia berusaha untuk menghilangkannya dengan mengalihkan perhatiannya kepada urusan dan kesibukan rumahtangga. Dan akhirnya menyerahlah Nyonya Futhifar kepada kehendak dan panggilan hati dan nafsunya yang mnedpt dukungan syaitan dan iblis dan diketepikanlahnya semua pertimbangan maruah, kedudukan dan martabat serta kehormatan diri sesuai dengan tuntutan dengan akal yang sehat.

Nyonya Futhifar menggunakan taktik, mamancing-mancing Yusuf agar ia lebih dahulu mendekatinya dan bukannya dia dulu yang mendekati Yusuf demi menjaga kehormatan dirinya sebagai isteri Ketua Polis. Ia selalu berdandan dan berhias rapi, bila Yusuf berada di rumah, merangsangnya dengan wangi-wangian dan dengan memperagakan gerak-geri dan tingkah laku sambil menampakkan, seakan-akan dengan tidak sengaja bahagian tubuhnya yang biasanya menggiurkan hati orang lelaki.

Yusuf yang tidak sedar bahwa Zulaikha, isteri Futhifar, mencintai dan mengandungi nafsu syahwat kepadanya, menganggap perlakuan manis dan pendekatan Zulaikha kepadanya adalah hal biasa sesuai dengan pesanan Futhifar kepada isterinya ketika dibawa pulang dari tempat perlelongan. Ia berlaku biasa sopan santun dan bersikap hormat dan tidak sedikit pun terlihat dari haknya sesuatu gerak atau tindakan yang menandakan bahwa ia terpikat oleh gaya dan aksi Zulaikha yang ingin menarik perhatiannya dan mengiurkan hatinya. Yusuf sebagai calon Nabi telah dibekali oleh Allah dengan iman yang mantap, akhlak yang luhur dan budi pekerti yang tinggi. Ia tidak akan terjerumus melakukan sesuatu maksiat yang sekaligus merupakan perbuatan atau suatu tindakan khianat terhadap orang yang telah mempercayainya memperlakukannya sebagai anak dan memberinya tempat di tengah-tengah keluarganya.

Sikap dingin dan acuh tak acuh dari Yusuf terhadap rayuan dan tingkah laku Zulaikha yang bertujuan membangkitkan nafsu syahwatnya menjadikan Zulaikha bahkan tambah panas hati dan bertekad dkan berusaha terus sampai maksudnya tercapai. Jika aksi samar-samar yang ia lakukan tetap tidak dimengertikan oleh Yusuf Yang dianggapkannya yang berdarah dingin itu, maka akan dilakukannya secara berterus terang dan kalau perlu dengan cara paksaan sekalipun.
Zulaikha , tidak tahan lebih lama menunggu reaksi dari Yusuf yang tetap bersikap dingin , acuh tak acuh terhadap rayuan dan ajakan yang samar-samar daripadanya. Maka kesempatan ketika si suami tidak ada di rumah, masuklah Zulaikha ke bilik tidurnya seraya berseru kepada Yusuf agar mengikutinya. Yusuf segera mengikutinya dan masuk ke bilik di belakang Zulaikha, sebagaimana ia sering melakukannya bila di mintai pertolongannya melakukan sesuatu di dalam bilik. Sekali-kali tidak terlintas dalm fikirannya bahwa perintah Zulaikha kali itu kepadanya untuk masuk ke biliknya bukanlah perintah biasa untuk melekukan sesuatu yang biasa diperintahkan kepadanya. Ia baru sedar ketika ia berad di dalam bilik, pintu dikunci oleh Zulaikha, tabir disisihkan seraya berbaring berkatalah ia kepada Yusuf: " Ayuh, hai Yusuf! Inilah aku sudah siap bagimu, aku tidak tahan menyimpan lebih lama lagi rasa rinduku kepada sentuhan tubuhmu. Inilah tubuhku kuserahkan kepadamu, berbuatlah sekehendak hatimu dan sepuas nafsumu."

Seraya memalingkan wajahnya ke arah lain, berkatalah Yusuf:" Semoga Allah melindungiku dari godaan syaitan. Tidak mungkin wahai tuan puteriku aku akan melakukan maksiat dan memenuhi kehendakmu. Jika aku melakukan apa yang tuan puteri kehendaki, maka aku telah mengkhianati tuanku, suami tuan puteri, yang telah melimpahkan kebaikannya dan kasih sayangnya kepadaku. Kepercayaan yang telah dilimpahkannya kepadaku, adalah suatu amanat yang tidak patut aku cederai. Sesekali tidak akanku balas budi baik tuanku dengan perkhianatan dan penodaan nama baiknya. Selain itu Allah pun akan murka kepadaku dan akan mengutukku bila bila aku lakukan apa yang tuan puteri mintakan daripadaku. Allah Maha Mengetahui segala apa yang diperbuat oleh hambanya.

Segera mata Zulaikha melotot dan wajahnya menjadi merah, tanda marah yang meluap-luap, akibat penolakan Yusuf tehadap ajaknya. Ia merasakan dirinya dihina dan diremehkan oleh Yusuf dengan penolakannya, yang dianggapnya suatu perbuatan kurang ajar dari seorang pelayan terhadap majikannya yang sudah merendahkan diri, mengajaknya tidur bersama, tetapi ditolak mentah-mentah. Padhal tidak sedikit pembesar pemerintah dan orang-orang berkedudukan telah lama merayunya dan ingin sekali menyentuh tubuhnya yang elok itu, tetapi tidak dihiraukan oleh Zulaikha.
Yusuf melihat mata Zulaikha yang melotot dan wajahnya yang menjadi merah, menjadi takut akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, dan segera lari menuju pintu yang tertutup, namun Zulaikha cepat-cepat bangun dari ranjangnya mengejar Yusuf yang sedang berusaha membuka pintu, ditariknyalah kuat-kuat oleh Zulaikha bahagian belakang kemejanya sehingga terkoyak. Tepat pada masa mereka berada di belakang pintu sambil tarik menarik, datanglah Futhifar mendapati mrk dalam keadaan yang mencurigakan itu.

Dengan tiada memberi kesempatan Yusuf membuka mulut, berkatalah Zulaikha cepat-cepat kepada suaminya yang masih berdiri tercengang memandang kepada kedua orang kepercayaan itu:" Inilah dia Yusuf , hamba yang engkau puja dan puji itu telah berani secara kurang ajar masuk ke bilikku dan memaksaku memenuhi nafsu syahwatnya. Berilah ia ganjaran yang setimpal dengan perbuatan biadabnya. Orang yang tidak mengenal budi baik kami ini harus dipenjarakan dan diberika seksaan yang pedih."

Yusuf mendengar laporan dan tuduhan palsu Zulaikha kepada suaminya, tidak dpt berbuat apa-apa selain memberi keterangan apa yang terjadi sebenarnya. Berkatalah ia kepada majikannya, Futhifar:" Sesungguhnya dialah yang menggodaku, memanggilkan aku ke biliknya, lalu memaksaku memenuhi nafsu syahwatnya. Aku menolak tawarannya itu dan lari menyingkirinya, namun ia mengejarku dan menarik kemejaku dari belakang sehingga terkoyak."

Futhifar dalam keadaan bingung. Sipakah diantara kedua orang yang benar? Yusufkah yang memang selama hidup bersama dirumahnya belum pernah berkata dusta, atau Zulaikhakah yang dalam fikirannya tidak mungkin akan mengkhianatinya? Dalam keadaan demikian itu tibalah sekonyong-konyong seorang dari keluarga Zulaikha, iaitu saudaranya sendiri yang dikenal bijaksana, pandai dan selalu memberi pertimbangan yang tepat bila dimintai fikiran dan nasihatnya. Atas permintaan Futhifar untuk memberinya pertimbangan dalam masalah yang membingungkan itu, berkatalah saudaranya:" Lihatlah, bila kemeja Yusuf terkoyak bahgian belakangnya, maka ialah yang benar dan isterimu yang dusta. Sebaliknya bila koyak kemejanya di bahagian hadapan maka dialah yang berdusta dan isterimu yang berkata benar."

Berkatalah Futhifar kepada isterinya setelah persoalannya menjadi jelas dan tabir rahsianya terungkap:" Beristighfarlah engkau hai Zulaikha dan mohonlah ampun atas dosamu. Engkau telah berbuat salah dan dusta pula untuk menutupi kesalahanmu. Memang yang demikian itu adalah sifat-sifat dan tipu daya kaum wanita yang sudah kami kenal." Kemudian berpalinglah dia mengadap Yusuf dan berkata kepadanya:" Tutuplah rapat-rapat mulutmu wahai Yusuf, dan ikatlah lidahmu, agar masalah ini akan tetap menjadi rahsia yang tersimpan sekeliling dinding rumah ini dan jangan sesekali sampai keluar dan menjadi rahsia umum dan buah mulut masyarakat. Anggap saja persoalan ini sudah selesai sampai disini."

Ada sebuah peribahasa yang berbunyi:" Tiap rahasia yang diketahui oleh dua orang pasti tersiar dan diketahui oleh orang ramai." Demikianlah juga peristiwa Zulaikha dengan Yusuf yang dengan ketat ingin ditutupi oleh keluarga Futhifar tidak perlu menunggu lama untuk menjadi rahsia umum. pada mulanya orang berbisik-bisik dari mulut ke mulut, menceritakan kejadian itu, tetapi makin hari makin meluas dan makin menyebar ke tiap-tiap pertemuan dan menjadi bahan pembicaraan di kalangan wanita-wanita dari golongan atas dan menengah. Kecaman-kecaman yang bersifat sindiran mahupun yang terang-terangan mulai dilontarkan orang terhadap Zulaikha, isteri Ketua Polis Negara, yang telah dikatakan bercumbu-cumbuan dengan pelayannya sendiri, seorang hamba belian dan yang sangat memalukan kata mrk bahwa pelayan bahkan menolak ajakan majikannya dan tatkala melarikan diri drpnya dikejarkannya sampai bahagian belakang kemejanya terkoyak.
Kecaman-kecaman sindiran-sindiran dan ejekan-ejekan orang terhadap dirinya akhirnya sampailah di telinga Zulaikha. Ia menjadi masyangul dan sedih hati bahwa peristiwanya dengan Yusuf sudah menjadi buah mulut orang yang dengan sendirinya membawa nama baik keluarga dan nama baik suaminya sebagai Ketua Polis Negara yang sgt disegani dan dihormati. Zulaikha yang sangat marah dan jengkel terhadap wanita-wanita sekelasnya, isteri-isteri pembesar yang tidak henti-hentinya dalam pertemuan mrk menyinggung namanya dengan ejekan dan kecaman sehubungan dengan peristiwanya dengan Yusuf.

Untuk mengakhiri desas-desus dan kasak-kusuk kaum wanita para isteri pembesar itu, Zulaikha mengundang mrk ke suatu jamuan makan di rumahnya, dengan maksud membuat kejutan memperlihatkan kepada mrk Yusuf yang telah menawankan hatinya sehingga menjadikan lupa akan maruah dan kedudukan sebagai isteri Ketua Polis Negara.

Dalam pesta itu para undangan diberikan tempat duduk yang empuk dan masing-masing diberikan sebilah pisau yang tajam untuk memotong daging dan buah-buahan yang tersedia dan sudah dihidangkan.

Setelah masing-masing tamu menduduki tempatnya dan disilakannya menikmati hidangan yang sudah tersedia di depannya, maka tepat pada masa mrk sibuk mengupas buah yang ada ditangan masing-masing, dikeluarkannyalah Yusuf oleh Zulaikha berjalan sebagai peragawan di hadapan wanita-wanita yang sedang sibuk memotong buah-buahan itu. Tanpa disadari para tamu wanita yang sedang memegang pisau dan buah-buahan di tangannya seraya ternganga mengagumi keindahan wajah dan tubuh Yusuf mrk melukai jari-jari tangannya sendir dan sambil menggeleng-geleng kepala kehairanan, maka berkatalah mrk:" Maha Sempurnalah Allah. Ini bukanlah manusia. Ini adalah seorang malaikat yang mulia."

Zulaikha bertepuk tangan tanda genbira melihat usah kejutannya brhasil dan sambil menujuk ke jari-jari wanita yang terhiris dan mencucurkan darah itu berkatalah ia:" Inilah dia Yusuf, yang menyebabkan aku menjadi bual-bualan ejekanmu dan sasaran kecaman-kecaman orang Tidakkah kami setelah melihat Yusuf dengan mata kepala memberi uzur kepadaku, bila ia menawan hatiku dan membangkitkan hawa nafsu syahwatku sebagai seorang wanita muda yang tidak pernah melihat orang yang setampan parasnya, seindah tubuhnya dan seluhur akhlak Yusuf? Salahkah aku jika aku tergila-gila olehnya, sampai lupa akan kedududkanku dan kedudukan suamiku? Kamu yang hanya melihat Yusuf sepintas lalu sudah kehilangan kesedaran sehingga bukan buah-buahan yang kamu kupas tetapi jari-jari tanganmu yang terhiris. Maka hairankah kalau aku yang berkumpul dengan Yusuf di bawah satu bumbung, melihat wajah dan tubuhnya serta mendengar suaranyapada setiap saat dan setiap detik sampai kehilangan akal sehingga tidak dapat mengawal nafsu syahwatku menghadapinya? Aku harus mengaku didepan kamu bahawa memang akulah yang menggodanya dan merayunya dan dengan segala daya upaya ingin memikat hatinya dan mengundangnya untuk menyambut cintaku dan melayani nafsu syahwatku. Akan tetapi dia bertahan diri, tidak menghiraukan ajakanku dan bersikap dingin terhadap rayuan dan godaanku. Ia makin menjauhkan diri, bila aku mencuba mendekatinya dan memalingkan pandangan matanya dari pandanganku bila mataku menentang matanya. Aku telah merendahkan diriku sebagai isteri Ketua Polis Negara kepada Yusuf yang hanya seorang hamba sahaya dan pembantu rumah, namaku sudah terlanjur ternoda dan menjadi ejekan orang karenanya, maka bila tetap membangkang dan tidak mahu memperturutkan kehendakku, aku tidak akan ragu-ragu akan memasukkannya ke dalam penjara sepanjang waktu sebagai pengajaran baginya dan imbalan bagi kecemaran namaku karenanya."

Mendengar kata-kata ancaman Zulaikha terhadap diri Yusuf menggugah hati para wanita yang menaruh simpati dan rasa kasihan kepada diri Yusuf. Mrk menyayangkan bahwa tubuh yang indah dan wajah yang tampan serta manusia yang berbudi pekerti dan berakhlak luhur itu tidak patut dipenjarakan dan dimasukkan ke tempat orang-orang yang melakukan jenayah dan penjahat.

Berkata salah seorang yang menghampirinya:" Wahai Yusuf! Mengapa engkau berkeras kepala menghadapi Zulaikha yang menyayangimu dan mencintaimu? Mengapa engkau menolak ajakan dan seruannya terhadapmu? Suatu keuntungan besar bagimu, bahwa seorang wanita cantik seperti Zulaikha yang bersuamikan seorang pembesar negara tertarik kepadamu dan menginginkan pendekatanmu. Ataukah mungkin engkau adalah seorang lelaki yang lemah syahwat dan karena itu tidak tertarik oleh kecantikan serta keelokan seorang wanita muda seperti Zulaikha."
Berkata seorang tamu wanita lain:" Jika sekiranya kamu tidak tertarik kepada Zulaikha karena kecantikannya, maka berbuatlah untuk kekayaannya dan kedudukan suaminya. sebab jika engkau dapat menyesuaikan dirimu kepada kehendak Zulaikha dan mengikuti segala perintahnya nescay engkau akan dianugerahi harta yang banyak dan mungkin pangkatmu pun akan dinaikkan."

Berucap seorang tamu lain memberi nasihat:" Wahai Yusuf! fikirkanlah baik-baik dan camkanlah nasihatku ini: Zulaikha sudah berketetapan hati harus mencapai tujuannya dan memperoleh akan apa yang dikehendakinya drpmu. Ia sudah terlanjur diejek dan dikecam orang dan sudah terlanjur namanya menjadi bualan di dalam masyarakat karena engkau maka dia mengancam bila engkau tetap berkeras kepala dan tidak melunakkan sikapmu terhadap tuntutannya, pasti ia akan memasukkan engkau ke dalam penjara sebagai penjahat dan penjenayah. Engkau mengetahui bahawa suami Zulaikha adlah Ketua Polis Negara yang berkuasa memenjarakan seseorang ke dalam tahanan dan engkau mengetahui pula bahwa Zulaikha sgt berpengaruh kepada suaminya. Sayangilah wahai Yusuf dirimu yang masih muda remaja dan tampan ini dan ikutilah perintah Zulaikha agar engkau selamat dan terhindar dari akibat yang kami tidak menginginkan ke atas dirimu."

Kata-kata nasihat dan bujukan para wanita ,Tamu Zulaikha itu didengar oleh Yusuf dengan telinga kanan dan keluar ke telinga kirinya. Tidak suatu pun daripadanya yang dapat turun ke lubuk hatinya atau menjadi bahan penimbangannya. Akan tetapi walaupun ia percaya kepada dirinya, tidak akan terpengaruh oleh bujukan dan nasihat-nasihat itu, ia merasa khuatir, bahwa jika masih tinggal lama di tengah-tengah pergaulan itu akhirnya mungkin ia akan terjebak dan masuk ke dalam perangkap tipu daya dan tipu muslihat Zulaikha dan kawan-kawan wanitanya.

Berdoalah Nabi Yusuf memohon kepada Allah agar memberi ketetapan iman dan keteguhan tekad kepadanya spy tidak tersesat oleh godaan syaitan dan tipu muslihat kaum wanita yang akan menjerumuskannya ke dalam lembah kemaksiatan dan perbuatan mungkar. Berucaplah ia di dalam doanya:" Ya Tuhanku! sesungguhnya aku lebih suka dipenjarakan berbanding aku berada di luar tetapi harus memperturutkan hawa nafsu para wanita itu. Lindungilah aku wahai Tuhanku dari pergaulan orang-orang yang hendak membawaku ke jalan yang sesat dan memaksaku melakukan perbuatan yang Engkau tidak redhai. Bila aku dipenjarakan akan ku bulatkan fikiranku serta ibadahku kepadamu wahai Tuhanku. Jauhkanlah daripadaku rayuan dan tipu daya wanita-wanita itu, supaya aku tidak termasuk dari orang-orang yang bodoh dan sesat."

Futhifar, Ketua Polis Negara, Suami Zulaikha mengetahui dengan pasti bahwa Yusuf bersih dari tuduhan yang dilemparkan kepadanya. Ianya pula sedar bahwa isterinyalah yang menjadi biang keladi dalam peristiwa yang sampai mencemarkan nama baik keluarganya. Akan tetapi ia tidak dapat berbuat selain mengikuti nasihat isterinya yang menganjurkan agar Yusuf dipenjarakan. Karena dengan memasukkan Yusuf ke dalam tahanan, pendapat umum akan berubah dan berbalik akan menuduh serta menganggap Yusuflah yang bersalah dalam peristiwa itu dan bukannya Zulaikha. Dengan demikian mrk berharap nama baiknya akan pulih kembali dan desas-desus serta kasak-kasuk masyarakat tentang rumahtanggannya akan berakhir. Demikianlah, maka perintah dikeluarkan oleh Futhifar dan masuklah Yusuf ke dalam penjara sesuai dengan doanya.

Isi cerita di atas dapat dibaca dalam Al-Quran surah Yusuf ayat 22 sehingga ayat 35 :
"22. Dan tatkala ia cukup dewasa, Kami berikan kepadanya hikmah dan ilmu. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. 23. Dan wanita {Zulaikha} yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya {kepadanya} dan dia menutup pintu-pintu seraya berkata: " Marilah kesini ". Yusuf berkata: "Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik." Sesungguh orang-orang yang zalim tidak akan beruntung. 24. Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud {melakukan perbuatan itu} dengan Yusuf dan Yusuf pun bermaksud {melakukan pula} dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda {dari} Tuhannya. Demikian agar Kami memalingkan daripadanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih. 25. Dan kedua-duanya berlumba-lumba menuju pintu dan wanita itu menarik baju kemeja Yusuf dari belakang hingga koyak dan kedua-duanya mendapati suami wanita itu di muka pintu. Wanita itu berkata:" Apakah pembalasan terhadap orang yang bermaksud berbuat serong dengan isterimu, selain dipenjarakan atau dihukum dengan azab yang pedih?" 26. Yusuf berkata:" Dia menggodaku untuk menundukkan diriku {kepadanya}." Dan seorang saksi dari keluarga wanita itu memberi kesaksiannya:" Jika bajunya koyak dihadapan, maka wanita itu benar, dan Yusuf termasuk orang-orang yang dusta. 27. Dan jika bajunya koyak dibelakang, mka wanita itulah yang dusta dan Yusuf termasuk orang-orang yang benar". 28. Maka tatkala suami wanita itu melihat baju kemeja Yusuf koyak dari belakang berkatalah dia:" Sesungguhnya kejadian itu adalah diantara tipu daya kamu, sesungguhnya tipu daya kamu besar". 29. Hai Yusuf:" Berpalinglah dari ini dan kamu {hai isteriku} mohon ampunlah atas doamu itu karena kamu sesungguhnya termasuk orang-orang yang berbuat salah". 30. Dan wanita-wanita di kota itu berkata:" Isteri Al-Aziz menggoda bujangnya untuk menundukkan dirinya kepadanya, sesungguhnya cintanya kepada bujangan itu adalah sgt mendalam. Sesungguhnya kami memandangnya dalam kesesatan nyata." 31. Maka tatkala wanita itu {Zulaikha} mendengar cercaan mereka, diundangnyalah wanita-wanita itu dan disediakannya bagi mereka tempat duduk dan diberikannya kepada masing-masing mereka sebilah pisau {utk memotong jamuan} kemudian dia berkata {kepada Yusuf}:" Keluarlah {nampakkanlah dirimu} kepada mrk". Maka tatakala wanita-wanita itu melihatnya, mrk kagum kepada {keindahan rupa} nya dan mrk melukai {jari} tangannya dan berkata:" Maha sempurna Allah, ini bukanlah manusia. Sesungguhnya ini tidak lain hanyalah malaikat yang mulia". 32. Wanita itu {Zulaikha} berkata:" Itulah dia orang yang kamu cela aku karena {tertarik} kepadanya dan sesungguhnya aku telah menggoda dia untuk menundukkan dirinya {kepadaku} akan tetapi dia menolak. Dan sesungguhnya jika dia tidak mentaati apa yang aku perintahkan kepadanya nescaya dia akan dipenjarakan dan dia akan termasuk orang-orang yang hina". 33. Yusuf berkata:" Wahai Tuhanku penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan drpku tipu daya mrk tentu akan aku cenderung untuk {memenuhi keinginan mrk} dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh". 34. Maka Tuhannya memperkenankan doa Yusuf dan Dia menghindarkan Yusuf dari tipu daya mereka. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. 35. Kemudian ambil fikiran kepada mrk setelah melihat tanda-tanda {kebenaran Yusuf} bahwa mrk harus memenjarakannya sampai sesuatu waktu". { Yusuf : 25 ~ 35 }

Rujukan:

http://alkisahteladan.blogspot.com/2009/10/yusuf-dan-godaan-nyonya-futhifar.html

Tsawabit imaniyah dalam amal Islami siri 4

Prinsip yang seterusnya segala nikmat adalah anugerah Allah SWT.

Segala nikmat yang kita ada datangnya daripada Allah SWT, dan bukannya daripada hasil usaha kita, keberanian kita dan aktiviti kita.

Ar Rasul SAW bersabda:
لا يد خل ا حد ا فى الجنة عملا
Seseorang itu masuk ke dalam syurga bukanlah kerana berdasarkan amalannya semata-mata
Al hadith

Segala perbuatan yang baik mestilah kita lakukan, namun, rahmat Allah SWT lah yang menentukan sama ada kita dapat masuk syurga ataupun tidak.

Jika demikian, ada sesetengah orang menyoal:
Mengapa kita semua perlu bersusah payah berbuat kebaikan, berdakwah dan sebagainya?

Jawapannya: Segala usaha yang kita lakukan ini menjadi sebab musabab untuk kita mendapat rahmat Allah SWT untuk dimasukkan ke dalam syurga-Nya. Akan tetapi amalan soleh yang kita lakukan itu tidak akan mampu membayar harga ke syurga Allah SWT, walaupun betapa besarnya amalan soleh yang telah kita lakukan.

Thursday, February 9, 2012

Pemuda teladan sepanjang zaman- Mush'ab bin Umair ra

Mengambil teladan daripada Sirah sebagai panduan kita bekerja dalam menegakkan deen Allah SWT di dalam realiti Islam yang ghurbah.

Berikut dikongsikan kisah syabab teladan sepanjang zaman. Di sana terdapat pengajaran-pengajaran yang berguna untuk kita semua.

w/a

Read on:

Mush’ab bin Umair salah seorang di antara para shahabat Nabi. Alangkah baiknya jika kita, memulai kisah dengan pribadi-nya: Seorang remaja Quraisy terkemuka, seorang yang paling ganteng dan tampan, penuh dengan jiwa dan semangat kemudaan.

Para ahli riwayat melukiskan semangat kemudaannya dengan kalimat: “Seorang warga kota Mekah yang mempunyai nama paling harum”·

Ia lahir dan dibesarkan dalam kesenangan, dan tumbuh dalam lingkungannya· Mungkin tak seorang pun di antara anak-anak muda Mekah yang beruntung dimanjakan oleh kedua orang tuanya demikian rupa sebagai yang dialami Nlush’ab bin Umair.

Mungkinkah kiranya anak muda yang serba kecukupan, biasa hidup mewah dan manja, menjadi buah-bibir gadis-gadis Mekah dan menjadi bintang di tempat-tempat pertemuan, akan meningkat sedemikian rupa hingga menjadi buah ceritera tentang keimanan, menjadi tamsil dalam semangat kepahlawanan Sungguh, suatu riwayat penuh pesona, riwayat Mush’ab bin Umair atau “Mush’ab yang balk”, sebagai biasa digelarkan oleh Kaum Muslimin. Ia salah satu di antara pribadi-pribadi Muslimin yang ditempa oleh Islam dan dididik oleh Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Tetapi corak pribadi manakah?
Sungguh, kisah hidupnya menjadi kebanggaan bagi kemanusiaan umumnya.
Suatu hari anak muda ini mendengar berita yang telah tersebar luas di kalangan warga Mekah mengenai Muhammad al-Amin … Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang mengatakan bahwa dirinya telah diutus Allah sebagai pembawa berita suka maupun duka, sebagai da’i yang mengajak ummat beribadat kepada Allah Yang Maha Esa.

Sementara perhatian warga Mekah terpusat pada berita itu, dan tiada yang menjadi buah pembicaraan mereka kecuali tentang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam serta Agama yang dibawanya, maka anak muda yang manja ini paling banyak mendengar berita itu. Karena walaupun usianya masih belia, tetapi ia menjadi bunga majlis tempat-tempat pertemuan yang selalu diharapkan kehadirannya oleh para anggota dan teman-temannya. Gayanya yang tampan dan otaknya yang cerdas merupakan keistimewaan Ibnu Umair, menjadi daya pemikat dan pembuka jalan pemecahan masalah.

Di antara berita yang didengarnya ialah bahwa Rasulullah bersama pengikutnya biasa mengadakan pertemuan di suatu tempat yang terhindar Sauh dari gangguan gerombolan Quraisy dan ancaman-ancamannya, yaitu di bukit Shafa di rumah Arqam bin Abil Arqam.

Keraguannya tiada berjalan lama, hanya sebentar waktu ia menunggu, maka pada suatu senja didorong oleh kerinduannya pergilah ia ke rumah Arqam menyertai rombongan itu. Di tempat itu Rasulullah saw. sering berkumpul dengan para shahabatnya, tempat mengajamya ayat-ayat al-Quran dan membawa mereka shalat beribadat kepada Allah Yang Maha Akbar.

Baru saja Mush’ab mengambil tempat duduknya, ayat-ayat al-Quran mulai mengalir dari kalbu Rasulullah bergema melalui kedua bibirnya dan sampai ke telinga, meresap di hati para pendengar. Di senja itu Mush’ab pun terpesona oleh untaian kalimat Rasulullah yang tepat menemui sasaran pada kalbunya.

Hampir saja anak muda itu terangkat dari tempat duduknya karena rasa haru, dan serasa terbang ia karena gembira. Tetapi Rasulullah mengulurkan tangannya yang penuh berkat dan kasih sayang dan mengurut dada pemuda yang sedang panas bergejolak, hingga tiba-tiba menjadi sebuah lubuk hati yang tenang dan damai, tak obah bagai lautan yang teduh dan dalam.

Pemuda yang telah Islam dan Iman itu nampak telah memiliki ilmu dan hikmah yang luas — berlipat ganda dari ukuran usianya — dan mempunyai kepekatan hati yang mampu merubah jalan sejarah …!
Khunas binti Malik yakni ibunda Mush’ab, seorang yang berkepribadian kuat dan pendiriannya tak dapat ditawar atau diganggu gugat. la wanita yang disegani bahkan ditakuti.

Ketika Mush’ab menganut Islam, tiada satu kekuatan pun yang ditakuti dan dikhawatirkannya selain ibunya sendiri, bahkan walau seluruh penduduk Mekah beserta berhala-berhala para pembesar dan padang pasirnya berubah rupa menjadi suatu kekuatan yang menakutkan yang hendak menyerang dan menghancurkannya, tentulah Mush’ab akan menganggapnya enteng. Tapi tantangan dari ibunya bagi Mush’ab tidak dapat dianggap kecil. Ia pun segera berpikir keras dan mengambil keputusan untuk menyembunyikan keislamannya sampai terjadi sesuatu yang dikehendaki Allah. Demikianlah ia senantiasa bolak-balik ke rumah Arqam menghadiri majlis Rasulullah, sedang hatinya merasa bahagia dengan keimanan dan sedia menebusnya dengan amarah murka ibunya yang belum mengetahui berita keislamannya.

Tetapi di kota Mekah tiada rahasia yang tersembunyi, apalagi dalam suasana seperti itu. Mata kaum Quraisy berkeliaran di mana-mana mengikuti setiap langkah dan menyelusuri setiap jejak.

Kebetulan seorang yang bernama Usman bin Thalhah melihat Mush’ab memasuki rumah Arqam secara sembunyi. Kemudian pada hari yang lain dilihatnya pula ia shalat seperti Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Secepat kilat ia mendapatkan ibu Mush’ab dan melaporkan berita yang dijamin kebenarannya.

Berdirilah Mush’ab di hadapan ibu dan keluarganya serta para pembesar Mekah yang berkumpul di rumahnya. Dengan hati yang yakin dan pasti dibacakannya ayat-ayat al-Quran yang disampaikan Rasulullah untuk mencuci hati nurani mereka, mengisinya dengan hikmah dan kemuliaan, kejujuran dan ketaqwaan.

Ketika sang ibu hendak membungkam mulut puteranya dengan tamparan keras, tiba-tiba tangan yang terulur bagai anak panah itu surut dan jatuh terkulai — demi melihat nur atau cahaya yang membuat wajah yang telah berseri cemerlang itu kian berwibawa dan patut diindahkan — menimbulkan suatu ketenangan yang mendorong dihentikannya tindakan.

Karena rasa keibuannya, ibunda Mush’ab terhindar memukul dan menyakiti puteranya, tetapi tak dapat menahan diri dari tuntutan bela berhala-berhalanya dengan jalan lain. Dibawalah puteranya itu ke suatu tempat terpencil di rumahnya, lalu dikurung dan dipenjarakannya amat rapat.

Demikianlah beberapa lama Mush’ab tinggal dalam kurungan sampai saat bebeuapa orang Muslimin hijrah ke Habsyi. Mendengar berita hijrah ini Mush’ab pun mencari muslihat, dan berhasil mengelabui ibu dan penjaga-penjaganya, lain pergi ke Habsyi melindungkan diri. Ia tinggal di sana bersama saudara-saudaranya kaum Muhajirin, lain pulang ke Mekah. Kemudian ia pergi lagi hijrah kedua kalinya bersama para shahabat atas titah Rasulullah dan karena taat kepadanya.

Balk di Habsyi ataupun di Mekah, ujian dan penderitaan yang harus dilalui Mush’ab di tiap saat dan tempat kian meningkat.
Ia telah selesai dan berhasil menempa corak kehidupannya menurut pola yang modelnya telah dicontohkan Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam la merasa puas bahwa kehidupannya telah layak untuk dipersembahkan bagi pengurbanan terhadap Penciptanya Yang Maha Tinggi, Tuhannya Yang Maha Akbar …

Pada suatu hari ia tampil di hadapan beberapa orang Muslimin yang sedang duduk sekeliling Rasulullah saw. Demi memandang Mush’ab, mereka sama menundukkan kepala dan memejamkan mata, sementara beberapa orang matanya basah karena duka. Mereka melihat Mush’ab memakai juSah usang yang bertambal-tambal, padahal belum lagi hilang dari ingatan mereka — pakaiannya sebelum masuk Lslam — tak obahnya bagaikan kembang di taman, berwarna warni dan menghamburkan bau yang wangi.

Adapun Rasulullah, menatapnya dengan pandangan penuh arti, disertai cinta kasih dan syukur dalam hati, pada kedua bihirnya tersungging senyuman mulia, seraya bersabda:
Dahulu saya lihat Mush’ab ini tak ada yang mengimbangi daiam memperoleh k esenangan dari orang tuanya, kemudian ditinggalhannya semua itu demi cintanya hepada Allah dan Rasul-Nya.

Semenjak ibunya merasa putus asa untuk mengembalikan Mush’ab kepada agama yang lama, ia telah menghentikan segala pemberian yang biasa dilimpahkan kepadanya, bahkan ia tak sudi nasinya dimakan orang yang telah mengingkari berhala dan patut beroleh kutukan daripadanya, walau anak kandungnya sendiri.

Akhir pertemuan Mush’ab dengan ibunya, ketika perempuan itu hendak mencoba mengurungnya lagi sewaktu ia pulang dari Habsyi. Ia pun bersumpah dan menyatakan tekadnya untuk membunuh orang-orang suruhan ibunya bila rencana itu dilakukan. Karena sang ibu telah mengetahui kebulatan tekad puteranya yang telah mengambil satu keputusan, tak ada jalan lain baginya kecuali melepasnya dengan cucuran air mata, sementara Mush’ab mengucapkan selamat berpisah dengan menangis pula.

Saat perpisahan itu menggambarkan kepada kita kegigihan luar biasa dalam kekafiran fihak ibu, sebaliknya kebulatan tekad yang lebih besar dalam mempertahankan keimanan dari fihak anak. Ketika sang ibu mengusirnya dari rumah sambil berkata: “Pergilah sesuka hatimu! Aku bukan ibumu lagi”.

Maka Mush’ab pun menghampiri ibunya sambil berkata: !’Wahai bunda! Telah anakanda sampaikan nasihat kepada bunda, dan anakanda menaruh kasihan kepada bunda. Karena itu saksikanlah bahwa tiada Tuhan melainkan Allah, dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya”.

Dengan murka dan naik darah ibunya menyahut: “Demi bintang! Sekali-kali aku takkan masuk ke dalam Agamamu itu.
Otakku bisa jadi rusak, dan buah pikiranku takkan diindahkan orang lagi”.

Demikian Mush’ab meninggalkari kemewahan dan kesenangan yang dialaminya selama itu, dan memilih hidup miskin dan sengsara. Pemuda ganteng dan perlente itu, kini telah menjadi seorang melarat dengan pakaiannya yang kasar dan usang, sehari makan dan beberapa hari menderita lapar.

Tapi jiwanya yang telah dihiasi dengan ‘aqidah suci dan cemerlang berkat sepuhan Nur Ilahi, telah merubah dirinya menjadi seorang manusia lain, yaitu manusia yang dihormati, penuh wibawa dan disegani …

Suatu saat Mush’ab dipilih Rasulullah untuk melakukan suatu tugas maha penting saat itu. Ia menjadi duta atau utusan Rasul ke Madinah untuk mengajarkan seluk beluk Agama kepada orang-orang Anshar yang telah beriman dan bai’at kepada Rasulullah di bukit ‘Aqabah. Di samping itu mengajak orang-orang lain untuk menganut Agama-Allah, serta mempersiapkan kota Madinah untuk menyambut hijratul Rasul sebagai peuistiwa besar.

Sebenamya di kalangan shahabat ketika itu masih banyak yang lebih tua, lebih beupengarub dan lebih dekat hubungan kekeluargaannya dengan Rasulullah daripada Mush’ab. Tetapi Rasulullah menjatuhkan pilihannya kepada “Mush’ab yang baik”.

Dan bukan tidak menyadari sepenuhnya bahwa beliau telah memikulkan tugas amat penting ke atas pundak pemuda itu, dan menyerahkan kepadanya tanggung jawab nasib Agama Islam di kota Madinah, suatu kota yang tak lama lagi akan menjadi kota tepatan atau kota hijrah, pusat para da’i dan da’wah, tempat berhimpunnya penyebar Agama dan pembela al-Islam.

Mush’ab memikul amanat itu dengan bekal karunia Allah kepadanya, berupa fikiran yang cerdas dan budi yang luhur.
Dengan sifat zuhud, kejujuran dan kesungguhan hati, ia berhasil melunakkan dan menawan hati penduduk Madinah hingga mereka beuduyun-duyun masuk Islam.

Sesampainya di Madinah, didapatinya Kaum Muslimin di sana tidak lebih dari dua belas orang, yakni hanya orang-orang yang telah bai’at di bukit ‘Aqabah. Tetapi tiada sampai beberapa bulan kemudian, meningkatlah orang yang sama-sama memenuhi panggilan Allah dan Rasul-nya.

Pada musim haji berikutnya dari perjanjian ‘Aqabah, Kaum Muslimin Madinah mengirim perutusan yang mewakili mereka menemui Nabi. Dan perutusan itu dipimpin oleh guru mereka, oleh duta yang dikirim Nabi kepada mereka, yaitu Mush’ab bin Umair.

Dengan tindakannya yang tepat dan bijaksana, Mush’ab bin Umair telah membuktikan bahwa pilihan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam atas dirinya itu tepat. Ia memahami tugas dengan sepenuhnya, hingga tak terlanjur melampaui batas yang telah ditetapkan.

la sadar bahwa tugasnya adalah menyerLi kepada Allah, menyampaikan berita gembira lahirnya suatu Agama yang mengajak manusia mencapai hidayah Allah, membimbing mereka ke jalan yang lurus. Akhlaqnya mengikuti pola hidup Rasulullah yang diimaninya, yang mengemban kewajiban hanya menyampaikan belaka ….

Di Madinah Mush’ab tinggal sebagai tamu di rumah As’ad bin Zararah. Dengan didampingi As’ad, ia pergi mengunjungi kabilah-kabilah, rumah-rumah dan tempat-tempat pertemuan, untuk membacakan ayat-ayat; Kitab Suci dari Allah, menyampaian kalimattullah “bahwa Allah Tuhan Maha Esa” secara hati-hati.

Pernah ia menghadapi beberapa peristiwa yang mengancam keselamatan diri serta shahabatnya, yang nyaris celaka kalau tidak karena kecerdasan akal dan kebesaran jiwanya. Suatu hari, ketika ia sedang memberikan petuah kepada orang-orang, tiba-tiba disergap Usaid bin Hudlair kepala suku kabilah Abdul Asyhal di Madinah. Usaid menodong Mush’ab dengan menyentakkan lembingnya. Bukan main marah dan murkanya Usaid, menyaksikan Mush’ab yang dianggap akan mengacau dan menyelewengkan anak buahnya dari agama mereka, serta mengemukakan Tuhan Yang Maha Esa yang belum pernah mereka kenal dan dengar sebelum itu. Padahal menurut anggapan Usaid, tuhan-tuhan mereka yang bersimpuh lena di tempatnya masing-masing mudah dihubungi secara kongkrit. Jika seseorang memerlukan salah satu di antaranya, tentulah ia akan mengetahui tempatnya dan segera pergi mengunjunginya untuk memaparkan kesulitan serta menyampaikan permohonan.

Demikianlah yang tergambar dan terbayang dalam fikiran suku Abdul Asyhal.
Tetapi Tuhannya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam — yang diserukan beribadah kepada-Nya — oleh utusan yang datang kepada mereka itu, tiadalah yang mengetahui tempat-Nya dan tak seorang pun yang dapat melihat-rjya.

Demi dilihat kedatangan Usaid bin Hudlair yang murka bagaikan api sedang berkobar kepada orang-orang Islam yang duduk beusama Mush’ab, mereka pun merasa kecut dan takut.
Tetapi “Mush’ab yang baik” tetap tinggal tenang dengan air muka yang tidak berubah.

Bagaikan singa hendak menerkam, Usaid berdiri di depan Mush’ab dan As’ad bin Zararah, bentaknya: “Apa maksud kalian datang ke kampung kami ini, apakah hendak membodohi rakyat kecil kami? Tinggalkan segera tempat ini, jika tak ingin segera nyawa kalian melayang!”

Seperti tenang dan mantapnya samudera dalam…, laksana terang dan damainya cahaya fajar …,terpancarlah ketulusan hati “Mush’ab yang baik”, dan bergeraklah lidahnya mengeluarkan ucapan halus, katanya: “Kenapa anda tidak duduk dan mendengarkan dulu? Seandainya anda menyukai nanti, anda dapat menerimanya. Sebaliknya jika tidak, kami akan menghentikan apa yang tidak anda sukai itu!”

Sebenamya Usaid seorang berakal dan berfikiran sehat. Dan sekarang ini ia diajak oleh Mush’ab untuk berbicara dan meminta petimbangan kepada hati nuraninya sendiri. Yang dimintanya hanyalah agar ia bersedia mendengar dan bukan lainnya. Jika ia menyetujui, ia akan membiarkan Mush’ab, dan jika tidak, maka Mush’ab berjanji akan meninggalkan kampung dan masyarakat mereka untuk mencari tempat dan masyarakat lain, dengan tidak merugikan ataupun dirugikan orang lain.

“Sekarang saya insaf”, ujar Usaid, lalu menjatuhkan lembingnya ke tanah dan duduk mendengarkan. Demi Mush’ab membacakan ayat-ayat al-Quran dan menguraikan da’wah yang dibawa oleh Muhammad bin Abdullah saw., maka dada Usaid pun mulai terbuka dan bercahaya, beralun berirama mengikuti naik turunnya suara serta meresapi keindahannya Dan belum lagi Mush’ab selesai dari uraiannya. Usaid pun berseru kepadanya dan kepada shahabatnya: “Alangkah indah dan benarnya ucapan itu .. ·! Dan apakah yang barns dilaknkan oleb orang yang hendak masuk Agama ini?” Maka sebagai jawabannya gemuruhlah suara tahlil, serempak seakan hendak menggoncangkan bumi. Kemudian ujar Mush’ab: “Hendaklah ia mensucikan diri, pakaian dan badannya, serta bersaksi bahwa tiada Tuhan yang haq diibadahi melainkan Allah”.

Beberapa lama Usaid meninggalkan mereka, kemudian kembali sambil memeras air dari rambutnya, lain ia berdiri sambil menyatakan pengakuannya bahwa tiada Tuhan yang haq diibadahi melainkan Allah dan bahwa Muhammad itu utusan Allah ….

Secepatnya berita itu pun tersiarlah. Keidaman Usaid disusul oleh kehadiran Sa’ad bin Mu’adz. Dan setelah mendengar uraian Mush’ab, Sa’ad merasa puas dan masuk Islam pula.
Langkah ini disusul pula oleh Sa’ad bin ‘Ubadah. Dan dengan keislaman mereka ini, berarti selesailah persoalan dengan berbagai suku yang ada di Madinah. Warga kota Madinah saling berdatangan dan tanya-bertanya sesama mereka: “Jika Usaid bin Hudlair, Sa’ad bin ‘Ubadah dan Sa’ad bin Mu’adz telah masuk Islam, apalagi yang kita tunggu …. Ayolah kita pergi kepada Mush’ab dan beriman bersamanya! Kata orang, kebenaran itu terpancar dari celah-celab giginya!”

Demikianlah duta Rasulullah yang pertama telah mencapai hasil gemilang yang tiada taranya, suatu keberhasilan yang memang wajar dan layak diperolehnya· Hari-hari dan tahun-tahun pun berlalu, dan Rasulullah bersama para shahabatnya hijral ke Madinah.

Orang-orang Quraisy semakin geram dengan dendamnya, mereka menyiapkan tenaga untuk melanjutkan tindakan kekerasan terhadp hamba-hamba Allah yang shalih. Terjadilah perang Badar dan kaum Quraisy pun beroleh pelajaran pahit yang menghabiskan sisa-sisa fikiran sehat mereka, hingga mereka berusaha untuk menebus kekalahan. Kemudian datanglah giliran perang Uhud, dan Kaum Muslimin pun bersiap-siap mengatur barisan. Rasulullah berdiri di tengah barisan itu, menatap setiap wajah orang beriman menyelidiki siapa yang sebaiknya membawa bendera. Maka terpanggillah “Mush’ab yang baik”, dan pahlawan itu tampil sebagai pembawa bendera.

Peperangan berkobar lalu berkecamuk dengan sengitnya. Pasukan panah melanggar tidak mentaati peraturan Rasulullah, mereka meninggalkan kedudukannya di celah bukit setelah melihat orang-orang musyrik menderita kekalahan dan mengundurkan diri. Perbuatan mereka itu secepatnya merubah suasana, hingga kemenangan Kaum Muslimin beralih menjadi kekalahan.

Dengan tidak diduga pasukan berkuda Quraisy menyerbu Kaum Muslimin daui puncak bukit, lalu tombak dan pedang pun berdentang bagaikan mengamuk, membantai Kaum Muslimin yang tengah kacau balau. Nlelihat barisan Kaum Muslimin porak poranda, musuh pun menujukan st?rangan ke arah Rasulullah dengan maksud menghantamnya.

Mush’ab bin Umair menyadari suasana gawat ini. Maka diacungkannya bendera setinggi-tingginya dan bagaikan ngauman singa ia bertakbir sekeras-kerasnya, lain maju ke muka, melompat, mengelak dan berputar lalu menerkam. Minatnya tertuju untuk menarik perhatian musuh kepadanya dan melupakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam Dengan demikian dirinya pribadi bagaikan membentuk bauisan tentara …

Sungguh, walaupun seorang diri, tetapi Mush’ab beutempur laksana pasukan tentara besar …. Sebelah tangannya memegang bendera bagaikan tameng kesaktian, sedang yang sebelah lagi menebaskan pedang dengan matanya yang tajam …. Tetapi musuh kian bertambah banyak juga, mereka hendak menyeberang dengan menginjak-injak tubuhnya untuk mencapai Rasulullah .

Sekarang marilah kita perhatikan saksi mata, yang akan menceriterakan saat-saat terakhir pahlawan besar Mush’ab bin Umair.
Berkata Ibnu Sa’ad: “Diceriterakan kepada kami oleh Ibrahim bin Muhammad bin Syurahbil al-’Abdari dari bapaknya, ia berkata:

Mush’ab bin Umair adalah pembawa bendera di Perang Uhud. Tatkala barisan Kaum Muslimin pecah, Mush’ab bertahan pada kedudukannya. Datanglah seorang musuh berkuda, Ibnu &umaiah namanya, lalu menebas tangannya hingga putus, sementara Mush’ab mengucapkan:
Muhammad itu tiada lain hanyaIah seorang Rasul, yang sebelumnya telah didahului oleh beberapa Rasul’: Maka dipegangnya bendera dengan tangan hirinya sambil membungkuk melindunginya. Musuh pun menebas tangan kirinya itu hingga putus pula. Mushab membungkuk ke arah bendera, lalu dengan kedua pangkal lengan meraihnya he dada sambil mengucaphan: “Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasulj dan sebelumnya telah didahului oleh beberapa Rasul’: Lalu orang berkuda itu menyerangnya ketiga kali dengan tombak, dan menusukkannya hingga tombak itu pun patah. Mushab pun gugur, dan bendera jatuh ”

Gugurlah Mush’ab dan jatuhlah bendera …. Ia gugur sebagai bintang dan mahkota para syuhada …. Dan hal itu dialaminya setelah dengan keberanian luar biasa mengarungi kancah pengurbanan dan keimanan. Di saat itu Mush’ab berpendapat bahwa sekiranya ia gugur, tentulah jalan para pembunuh akan terbuka lebar menuju Rasulullah tanpa ada pembela yang akan mempertahankannya. Demi cintanya yang tiada terbatas kepada Rasulullah dan cemas memikirkan nasibnya nanti, ketika ia akan pergi berlalu, setiap kali pedang jatuh menerbangkan sebelah tangannya, dihiburnya dirinya dengan ucapan: “Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul, dan sebelumnya telah didahului oleh beberapa Rasul”

Kalimat yang kemudian dikukuhkan sebagai wahyu ini selalu diulang dan dibacanya sampai selesai, hingga akhirnya menjadi ayat al-Quran yang selalu dibaca orang ….
Setelah pertempuran usai, ditemukanlah jasad pahlawan ulung yang syahid itu terbaring dengan wajah menelungkup ke tanah digenangi darahnya yang mulia ….Dan seolah-olah tubuh yang telah kaku itu masih takut menyaksikan bila Rasulullah ditimpa bencana, maka disembunyikannya wajahnya agar tidak melihat peristiwa yang dikhawatirkan dan ditakutinya itu.

Atau mungkin juga ia merasa main karena telah gugur sebelum hatinya tenteram beroleh kepastian akan keselamatan Rasulullah, dan sebelum ia selesai menunaikan tugasnya dalam membela dan mempertahankan Rasulullah sampai berhasil.

Wahai Mush’ab cukuplah bagimu ar-Rahman ….
Namamu harum semerbak dalam kehidupan ….
Rasulullah bersama para shahabat datang meninjau medan pertempuran untuk menyampaikan perpisahan kepada para syuhada. Ketika sampai di tempat terbaringnya jasad Mush’ab, bercucuranlah dengan deras air matanya. Berkata Khabbah ibnul’Urrat:

“Kami hijrah di jalan Allah bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan mengharap keridhaan-Nya, hingga pastilah sudah pahala di sisi Allah. Di antara hami ada yang telah berlalu sebelum menikmati’ pahalanya di dunia ini sedihit pun juga. Di antaranya ialah Mush’ab bin Umair yang tewa s di perang Uhud. Tak sehelai pun kain untuk menutupinya selain sehelai burdah. Andainya ditaruh di atas kepalanya, terbukalah kedua belah kakinya. Sebaliknya bila ditutupkan ke kakinya, terbukalah kepalanya. Maka sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam “Tutupkanlah ke bagian kepalanya, dan dahinya tutupilah delagan rumput idzkhir!”

Betapa pun luka pedih dan duka yang dalam menimpa Rasulullah karena gugur pamanda Hamzah dan dirusak tubuhnya oleh orang-orang musyrik demikian rupa, hingga bercucurlah air mata Nabi …. Dan betapapun penuhnya medan laga dengan mayat para shahabat dan kawan-kawannya, yang masing-masing mereka baginya merupakan panji-panji ketulusan, kesucian dan cahaya …. Betapa juga semua itu, tapi Rasulullah tak melewatkan berhenti sejenak dekat jasad dutanya yang pertama, untuk melepas dan mengeluarkan isi hatinya …. Memang, Rasulullah berdiri di depan Mush’ab bin Umair dengan pandangan mata yang pendek bagai menyelubunginya dengan kesetiaan dan kasih sayang, dibacakannya ayat:
Di antara orang-orang Mu inin terdapat pahlawan-pahlawan yang telah menepati janjinya dengan Allah.(Q.S. 33 al-Ahzab: 23)

Kemudian dengan mengeluh memandangi burdah yang digunakan untuk kain tutupnya, seraya bersabda:
Ketika di Mekah dulu, tak seorang pun aku lihat yang lebih halus pakaiannya dan lebih rapi rambutnya daripadamu. Tetapi seharang ini, dengan rambutmu yang kusut masai, hanya dibalut sehelai burdah.

Setelah melayangkan pandang, pandangan sayu ke arah medan serta para syuhada kawan-kawan Mush’ab yang tergeletak di atasnya, Rasulullah berseru:
Sungguh, Rasulullah akan menjadi saksi nanti di hari qiamat, bahwa tuan-tuan semua adalah syuhada di sisi Allah.

Kemudian sambil berpaling ke arah shahabat yang masih hidup, sabdanya:
Hai manusia! Berziarahlah dan berltunjunglah kepada mereka, serta ucaphanlah salam Demi Allah yang menguasai nyawaku, tak seorang Muslim pun sampai hari qiamat yang memberi salam kepada mereka, pasti mereha akan mem balasnya.

Salam atasmu wahai Mush’ab ….
Salam atasmu sekalian, wahai para syuhada ….
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Rujukan:
http://www.kisah.web.id/sahabat/mushab-bin-umair.html

Wednesday, February 8, 2012

Tsawabit imaniyah dalam amal Islami siri 3

Prinsip yang seterusnya ialah Tajarrud dan Zahid

Prinsip ini sangat penting dan berguna dalam kehidupan harian seseorang yang tinggal di Malaysia dan juga di mana sahaja. Ini kerana suasana luaran di sini sentiasa mengajak kepada yang dosa dan maksiat. Apabila kita keluar sahaja dari rumah kita, kita akan dapati masyarakat yang ada saling bersaing sesama mereka untuk mengejar kebendaan dan keselesaan ekonomi. Fenomena ini bukan hanya berlaku kepada orang awam, bahkan turut terkena orang yang komited dengan agama mereka. Merekapun turut terjebak dengan perkara-perkara yang tidak bermoral.

Justeru itulah kita amat memerlukan sistem sokongan yang kuat melalui jalan tarbiah. Dengan jalan tarbiyah, iman kita akan dapat dijaga dan dilindungi daripada kerosakan yang ada.

Hendaklah kita sentiasa ingat seerah Mus’ab bin Umair ra. Kita lihat bagaimana kehidupan beliau sebelum ia masuk Islam dan bagaimana keadaan jenazah beliau dikafankan sebagai seorang Islam yang berjuang dan taat. Semasa masa sebelum pengislamannya, Mus’ab merupakan pemuda yang sangat terkenal di dalam masyarakat Quraiysh pada masa itu. Hidupnya dalam keadaan yang penuh dengan kemewahan. Tidak ada seorang pun penduduk Makkah yang boleh mengatasi gaya hidup mewahnya.

Sesudah beliau masuk Islam beliau bersama-sama dengan Ar Rasul SAW membela Islam. Semasa kematian beliau, didapati kain yang ada tidak mencukupi untuk menutupi jenazahnya.

Ini merupakan peristiwa yang amat menyedihkan. Musab ra. biasanya semasa sebelum Islam terbiasa memakai harir(sutera).

Apabila melihat peristiwa ini, seorang sahabi bernama Abdul Rahman bin ‘Auf ra. menangis kerana terkenang zaman Musab sebelum Islam dan saat jenazahnya dikafankan.

Kehidupan para sahabat r.hm yang seperti ini perlu kita ingatkan sentiasa kepada sahabat-sahabat kita. Ini bukan bermakna kita menggalakkan sahabat menjadi orang miskin dan papa kedana, Ini merupakan satu kefahaman yang salah.

Berkaitan dengan konsep zahid pula, pada asasnya jika kita diberi kekayaan oleh Allah SWT, kekayaan itu terletak pada tangan kita dan bukannya di hati. Kita tidak meminta untuk jadi miskin, akan tetapi jika ditakdirkan kita menjadi miskin, kita akan terus untuk sentiasa melakukan kebaikan.

Friday, February 3, 2012

Muhajirin dan Ansor

Mengambil teladan daripada Sirah sebagai panduan kita bekerja dalam menegakkan deen Allah SWT.

Berikut dikongsikan detik-detik awal persaudaraan Muhajirin dan Ansor. Di sana terdapat pengajaran-pengajaran yang berguna untuk kita semua.

w/a

Read on:


Unta yang dinaiki Nabi alaihi ssalam berlutut di tempat penjemuran kurma milik Sahl dan Suhail b. Amr. Kemudian tempat itu dibelinya guna dipakai tempat membangun mesjid. Dalam membangun mesjid itu Muhammad juga turut bekerja dengan tangannya sendiri. Selesai mesjid itu dibangun, di sekitarnya dibangun pula tempat-tempat tinggal Rasul. Baik pembangunan mesjid maupun tempat-tempat tinggal itu tidak sampai memaksa seseorang, karena segalanya serba sederhana, disesuaikan dengan petunjuk-petunjuk Muhammad.

Selesai Muhammad membangun mesjid dan tempat-tinggal, ia pindah dari rumah Abu Ayyub ke tempat ini. Sekarang terpikir olehnya akan adanya hidup baru yang harus dimulai, yang telah membawanya dan membawa dakwahnya itu harus menginjak langkah baru lebih lebar. Segala tujuan dan daya-upaya, yang pertama dan yang terakhir, ialah meneruskan risalah, yang penyampaiannya telah dipercayakan Tuhan kepadanya, dengan mengajak dan memberikan peringatan.

Penduduk Yathrib pada waktu itu terdiri dari kaum Muslimin - Muhajirin dan Anshar – orang-orang musyrik dari sisa-sisa Aus dan Khazraj - sedang hubungan kedua golongan ini sudah sama-sama kita ketahui; kemudian orang-orang Yahudi: Banu Qainuqa di sebelah dalam, Banu Quraiza di Fadak, Banu’n-Nadzir tidak jauh dari sana dan Yahudi Khaibar di Utara.

Ada pun kaum Muhajirin dan Anshar, karena solidaritas agama baru itu, mereka sudah erat sekali bersatu. Sungguhpun begitu, kekuatiran dalam hati Muhammad belum hilang samasekali, kalau-kalau suatu waktu kebencian lama di kalangan mereka akan kembali timbul. Sekarang terpikir olehnya bahwa setiap keraguan semacam itu harus dihilangkan.

Sebaliknya golongan musyrik dari sisa-sisa Aus dan Khazraj, akibat peperangan-peperangan masa lampau, mereka merasa lemah sekali di tengah-tengah kaum Muslimin dan Yahudi itu.

Selanjutnya golongan Yahudi dengan tiada ragu-ragu merekapun menyambut baik kedatangan Muhammad dengan dugaan bahwa mereka akan dapat membujuknya dan sekaligus merangkulnya ke pihak mereka, serta dapat pula diminta bantuannya membentuk sebuah jazirah Arab. Dengan demikian mereka akan dapat pula membendung Kristen, yang telah mengusir Yahudi, -bangsa
pilihan Tuhan – dari Palestina, Tanah yang Dijanjikan dan tanah air mereka itu.

Sekarang ia bermusyawarah dengan kedua wazirnya itu Abu Bakr dan Umar. Yang menjadi pokok pikirannya yang mula-mula ialah menyusun barisan kaum Muslimin serta mempererat persatuan mereka, guna menghilangkan segala bayangan yang akan membangkitkan api permusuhan lama di kalangan mereka itu. Untuk mencapai maksud ini diajaknya kaum Muslimin supaya masing-masing dua bersaudara, demi Allah. Dia sendiri bersaudara dengan Ali b. Abi Talib. Hamzah pamannya bersaudara dengan Zaid bekas budaknya. Abu Bakr bersaudara dengan Kharija b. Zaid. Umar ibn’l-Khattab, bersaudara dengan ‘Itban b. Malik al-Khazraji.

Demikian juga setiap orang dari kalangan Muhajirin yang sekarang sudah banyak jumlahnya di Yathrib - sesudah mereka yang tadinya masih tinggal di Mekah menyusul ke Medinah setelah Rasul hijrah - dipersaudarakan pula ; dengan setiap orang dari pihak Anshar, yang oleh Rasul lalu dijadikan hukum saudara sedarah senasib. Dengan persaudaraan demikian ini persaudaraan kaum Muslimin bertambah kukuh adanya.

Ternyata kalangan Anshar memperlihatkan sikap keramahtamahan yang luarbiasa terhadap saudara-saudara mereka kaum Muhajirin ini, yang sejak semula sudah mereka sambut dengan penuh gembira. Abdur-Rahman b. ‘Auf yang sudah bersaudara dengan Sa’d bin’r-Rabi’ ketika di Yathrib ia sudah tidak punya apa-apa lagi. Ketika Sa’d menawarkan hartanya akan dibagi dua, Abdur-Rahman menolak. Ia hanya minta ditunjukkan jalan ke pasar. Dan di sanalah ia mulai berdagang mentega dan keju. Dalam waktu tidak berapa lama, dengan kecakapannya berdagang ia telah dapat mencapai kekayaan kembali, dan dapat pula memberikan mas-kawin kepada salah seorang wanita Medinah. Bahkan sudah mempunyai kafilah-kafilah yang pergi dan pulang membawa perdagangan.
Selain Abdur-Rahman, dari kalangan Muhajirin, banyak juga yang telah melakukan hal serupa itu.

Adapun mereka yang tidak melakukan pekerjaan berdagang, diantaranya ialah Abu Bakr, Umar, Ali b. Abi Talib dan lain-lain. Keluarga-keluarga mereka terjun kedalam pertanian, menggarap tanah milik orang-orang Anshar bersama-sama pemiliknya. Tetapi selain mereka ada pula yang harus menghadapi kesulitan dan kesukaran hidup. Sungguhpun begitu, mereka ini tidak mau hidup menjadi beban orang lain. Merekapun membanting tulang bekerja, dan dalam bekerja itu mereka merasakan adanya ketenangan batin, yang selama di Mekah tidak pernah mereka rasakan.

Di samping itu ada lagi segolongan orang-orang Arab yang datang ke Medinah dan menyatakan masuk Islam, dalam keadaan miskin dan serba kekurangan sampai-sampai ada diantara mereka yang tidak punya tempat tinggal. Bagi mereka ini oleh Muhammad disediakan tempat di selasar mesjid yaitu shuffa [bahagian mesjid yang beratap] sebagai tempat tinggal mereka. Oleh karena itu mereka diberi nama Ahl’sh-Shuffa (Penghuni Shuffa). Belanja mereka diberikan dari harta kaum Muslimin, baik dari kalangan Muhajirin maupun Anshar yang berkecukupan.

Antara kaum Muhajirin dan Anshar dengan orang-orang Yahudi, Muhammad membuat suatu perjanjian tertulis yang berisi pengakuan atas agama mereka dan harta-benda mereka, dengan syarat-syarat timbal balik, antara lain (yang penting) adalah sebagai berikut:

“Bahwa orang-orang yang beriman tidak boleh membiarkan seseorang yang menanggung beban hidup dan hutang yang berat diantara sesama mereka. Mereka harus dibantu dengan cara yang baik dalam membayar tebusan tawanan atau membayar diat.
”Bahwa seseorang yang beriman tidak boleh mengikat janji dalam menghadapi mukmin lainnya.
”Bahwa orang-orang yang beriman dan bertakwa harus melawan orang yang melakukan kejahatan diantara mereka sendiri, atau orang yang suka melakukan perbuatan aniaya, kejahatan, permusuhan atau berbuat kerusakan diantara orang-orang beriman sendiri, dan mereka semua harus sama-sama melawannya walaupun terhadap anak sendiri.
”Bahwa seseorang yang beriman tidak boleh membunuh sesama mukmin lantaran orang kafir untuk melawan orang beriman.
”Bahwa barangsiapa dari kalangan Yahudi yang menjadi pengikut kami, ia berhak mendapat pertolongan dan persamaan; tidak menganiaya atau melawan mereka
”Bahwa persetujuan damai orang-orang beriman itu satu; tidak dibenarkan seorang mukmin mengadakan perdamaian sendiri denganmeninggalkan mukmin lainnya dalam keadaan perang di jalan Allah. Mereka harus sama dan adil adanya.
”Bahwa setiap orang yang berperang bersama kami, satu sama lain harus saling bergiliran.
“Bahwa barangsiapa membunuh orang beriman yang tidak bersalah dengan cukup bukti maka ia harus mendapat balasan yang setimpal kecuali bila keluarga si terbunuh sukarela (menerima tebusan).
”Bahwa orang-orang Yahudi harus mengeluarkan belanja bersama-sama orang-orang beriman selama mereka masih dalam keadaan perang.
“Bahwa orang-orang Yahudi berkewajiban menanggung nafkah mereka sendiri dan kaum Musliminpun berkewajiban menanggung nafkah mereka sendiri pula. Antara mereka harus ada tolong menolong dalam menghadapi orang yang hendak menyerang pihak yang mengadakan piagam perjanjian ini.
“Bahwa orang-orang Yahudi berkewajiban mengeluarkan belanja bersama orang-orang beriman selama masih dalam keadaan perang.
”Bahwa tempat yang dihormati itu tak boleh didiami orang tanpa ijin penduduknya.
”Bahwa antara mereka harus saling membantu melawan orang yang mau menyerang Yathrib ini. Tetapi apabila telah diajak berdamai maka sambutlah ajakan perdamaian itu.
”Bahwa apabila mereka diajak berdamai, maka orang-orang yang beriman wajib menyambutnya, kecuali kepada orang yang memerangi agama. Bagi setiap orang, dari pihaknya sendiri mempunyai bagiannya masing-masing.


Demikianlah, seluruh kota Medinah dan sekitarnya telah benar-benar jadi terhormat bagi seluruh penduduk. Mereka berkewajiban mempertahankan kota ini dan mengusir setiap serangan yang datang dari luar. Mereka harus bekerja sama antara sesama mereka guna menghormati segala hak dan segala macam kebebasan yang sudah disetujui bersama dalam dokumen ini

Pada masa ini, Muhammad menyelesaikan perkawinannya dengan Aisyah bt. Abi Bakr, yang waktu itu baru berusia sepuluh atau sebelas tahun. Ia adalah seorang gadis yang lemah-lembut dengan air muka yang manis dan sangat disukai dalam pergaulan. Ketika itu ia sedang menjenjang remaja puteri, mempunyai kegemaran bermain-main dan bersukaria.

Dalam suasana kaum Muslimin yang sudah mulai tenteram menjalankan tugas-tugas agama itu, pada waktu itu kewajiban zakat dan puasa mulai pula dijalankan hukumnya. Di Yathrib inilah Islam mulai menemukan kekuatannya. Bila ketika itu waktu-waktu sembahyang sudah tiba, orang berkumpul bersama-sama tanpa dipanggil. Lalu terpikir akan memanggil orang bersembahyang dengan mempergunakan terompet seperti orang-orang Yahudi. Tetapi dia tidak menyukai terompet itu. Lalu dianjurkan mempergunakan genta, yang akan dipukul waktu sembahyang, seperti dilakukan oleh orang-orang Nasrani.

Tetapi kemudian sesudah ada saran dari Umar dan sekelompok Muslimim – menurut satu sumber, – atau dengan perintah Tuhan melalui wahyu, menurut sumber lain – penggunaan genta inipun dibatalkan dan diganti dengan azan. Selanjutnya diminta kepada Abdullah b. Zaid b. Tha’laba:

“Kau pergi dengan Bilal dan bacakan kepadanya – maksudnya teks azan – dan suruh dia menyerukan azan itu, sebab suaranya lebih
merdu dari suaramu.”

Landasan pertama yang diajarkan Rasulullah SAW ialah persaudaraan umat manusia: persaudaraan yang akan mengakibatkan seseorang tidak sempurna imannya sebelum ia dapat mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri dan sebelum persaudaraan demikian itu dapat mencapai kebaikan dan rasa kasih-sayang tanpa suatu sikap lemah dan mudah menyerah. Ada orang yang bertanya kepada Muhammad;
“Perbuatan apakah yang baik dalam Islam?”
Dijawab:
“Sudi memberi makan dan memberi salam kepada orang yang kaukenal dan yang tidak kaukenal.”

Kebaikan dan kasih-sayang yang sudah menjadi sendi persaudaraan itu, yang dalam peradaban dunia modern sekarang juga menjadi dasar bagi seluruh umat manusia tidak hanya terbatas sampai di situ saja, melainkan melampaui sampai kepada binatang juga. Dia sendiri yang bangun membukakan pintu untuk seekor kucing yang sedang berlindung di tempat itu. Dia sendiri yang merawat seekor ayam jantan yang sedang sakit; kudanya dielus-elusnya dengan lengan bajunya. Bila dilihatnya Aisyah naik seekor unta, karena menemui kesukaran lalu
binatang itu ditarik-tariknya, iapun ditegurnya: “Hendaknya kau berlaku lemah-lembut.” Kasih-sayangnya itu meliputi segala hal, dan selalu memberi perlindungan kepada siapa saja yang memerlukannya.

Disinilah dasar peradaban Islam yang berbeda dengan sebahagian besar peradaban-peradaban lain. Islam menekankan pada keadilan disamping persaudaraan itu, dan berpendapat bahwa tanpa adanya keadilan ini persaudaraan tidak mungkin ada.

“Barangsiapa menyerang kamu, seranglah dengan yang seimbang, seperti mereka menyerang kamu.” (Qur’an, 2: 194)

“Dengan hukum qishash berarti kelangsungan hidup bagi kamu, hai orang-orang yang mengerti.” (Qur’an, 2: 179)


Ada seorang rabbi yang cerdik-pandai, yaitu Abdullah b. Sallam yang telah berhubungan dengan Nabi iapun lalu memeluk Islam; dan dianjurkannya pula keluarganya. Lalu merekapun bersama-sama memeluk agama Islam.

Abdullah bin Sallam merasa kuatir akan ada kata-kata yang tidak biasa yang akan dilontarkan orang-orang Yahudi jika mereka mengetahui ia sudah menganut Islam. Maka dimintanya kepada Nabi untuk menanyai mereka tentang dirinya itu sebelum mereka mengetahui bahwa dia sudah Islam. Ternyata mereka berkata: dia pemimpin kami, pendeta kami dan orang cerdik-pandai kami. Setelah Abdullah berhadapan dengan mereka dan sekarang jelas sudah sikapnya, bahkan mengajak mereka menganut ajaran Islam, merekapun merasa kuatir akan nasibnya itu nanti. Maka di seluruh perkampungan Yahudi itu iapun mulai difitnah dan diumpat dengan kata-kata yang tak senonoh. Dalam hal ini mereka lalu sepakat akan berkomplot terhadap Muhammad menolak kenabiannya. Secepat itu pula sisa-sisa orang yang masih musyrik dari kalangan Aus dan Khazraj serta mereka yang pura-pura masuk Islam segera menggabungkan diri dengan mereka, baik karena mau mengejar keuntungan materi atau karena mau menyenangkan golongannya atau pihak yang berpengaruh

Sekarang mulai terjadi suatu perang polemik antara Muhammad dengan orang-orang Yahudi, yang ternyata lebih bengis dan lebih licik daripada perang polemik yang dulu pernah terjadi antara dia dengan orang-orang Quraisy di Mekah. Mereka mengadakan intrik melalui pendeta-pendeta mereka yang pura-pura Islam dan yang dapat bergaul ke tengah-tengah kaum Muslimin dengan pura-pura sangat takwa sekali, yang kemudian lalu sekali-kali memperlihatkan kesangsian dan keraguannya.

Tidak cukup dengan maksud mau menimbulkan insiden antara Muhajirin dengan Anshar dan antara Aus dengan Khazraj dan tidak pula cukup dengan membujuk kaum Muslimin supaya meninggalkan agamanya dan kembali menjadi syirik tanpa mencoba-coba mengajak mereka menganut agama Yahudi, bahkan lebih dari itu orang Yahudi itu kini berusaha memperdaya Muhammad sendiri. Pendekar-pendekar mereka, pemuka-pemuka dan pemimpin-pemimpin mereka datang menemuinya dengan mengatakan: “Tuhan sudah mengetahui keadaan kami, kedudukan kami. Kalau kami mengikut tuan, orang-orang Yahudipun akan juga ikut dan mereka tidak akan menentang kami. Sebenarnya antara kami dengan beberapa kelompok golongan kami timbul permusuhan. Lalu kami datang ini minta keputusan tuan. Berilah kami keputusan. Kami akan ikut tuan dan percaya kepada tuan.”

Di sinilah firman Tuhan menyebutkan:

“Dan hendaklah engkau memutuskan perkara diantara mereka menurut apa yang sudah diturunkan Allah, dan jangan kauturuti hawa-nafsu mereka. Berhati-hatilah terhadap mereka. Jangan sampai mereka memperdayakan kau dari beberapa peraturan yang sudah ditentukan Tuhan kepadamu. Tetapi kalau mereka menyimpang, ketahuilah, Tuhan akan menurunkan bencana kepada mereka karena beberapa dosa mereka sendiri juga. Sesungguhnya, kebanyakan manusia itu adalah orang-orang fasik. Adakah yang mereka kehendaki itu hukum jahiliah? Dan hukum siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi mereka yang yakin?” (Qur’an, 5: 49-50)

Waktu sedang sengit-sengitnya terjadi polemik antara Muhammad dengan orang-orang Yahudi itu, delegasi pihak Nasrani dari Najran tiba di Medinah, terdiri dari enampuluh buah kendaraan. Diantara mereka terdapat orang-orang terkemuka, orang-orang yang sudah mempelajari dan menguasai seluk-beluk agama mereka. Pada waktu itu penguasa-penguasa Rumawi yang juga menganut agama Nasrani sudah memberikan kedudukan, memberikan bantuan harta, memberikan bantuan tenaga serta membuatkan gereja-gereja dan kemakmuran buat kaum Nasrani Najran itu.

Dengan datangnya delegasi ini dan polemiknya dengan Nabi serta dibukanya kancah pertarungan theologis yang sengit antara orang-orang Yahudi, Nasrani dan Islam maka ketiga agama Kitab ini sekarang berkumpul. Dari pihak Yahudi, mereka memang menolak samasekali ajaran Isa dan Muhammad, yang dasarnya karena sikap keras kepala. Sedang pihak Nasrani, paham mereka adalah Trinitas dan menuhankan Isa. Sebaliknya Muhammad, ia mengajak orang kepada keesaan Tuhan dan kepada kesatuan rohani yang sudah diatur oleh alam sejak awal yang ajali sampai pada akhir yang abadi – sejak dunia ini berkembang sampai ke akhir zaman. Orang-orang Yahudi dan
Nasrani itu bertanya kepadanya, kepada siapa-siapa diantara para rasul itu ia beriman. Ia menjawab:

“Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkanNya kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya’qub serta anak-cucunya, dan apa yang telah diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang telah diberikan Tuhan kepada nabi-nabi. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun diantara mereka, dan kamipun patuh kepadaNya.” (Qur’an 2: 136)


Rujukan:

http://www.kisah.web.id/rosulullah-saw/saat-saat-awal-di-madinah.html

`Jika Allah SWT memberi hidayah kepada seorang lelaki lantaran anda, itu lebih baik bagimu daripada apa yang disinari matahari' HR At Tobrani